Home Berita dan Artikel Artikel Perahu Tambangan Mahakam Makin Ditinggalkan

Perahu Tambangan Mahakam Makin Ditinggalkan

TRANSPORTASI SUNGAI
Perahu Tambangan Mahakam Makin Ditinggalkan

Jarum jam menunjukkan pukul 11.14 Wita, Sabtu (2/1). Layaknya mengemudi mobil, Riki (27), nakhoda perahu ”Kompas 77”, dengan cekatan menarik tuas gas dan kemudi.

Uniknya, jika mengendarai mobil tangan memegang kemudi dan kaki digunakan untuk menginjak pedal gas dan rem, di perahu itu Riki melakukan segalanya dengan tangan. Sebab, perahu bermotor yang dikenal dengan perahu tambangan itu cuma perlu tarikan gas untuk menggerakkan baling-baling.

Kapal kelotok penyeberangan itu, yang sebelumnya bersandar berimpitan dengan perahu lain di dermaga penyeberangan di tepi Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, tak lama kemudian mundur secara perlahan. Setelah posisinya dirasa bebas dari hambatan, Riki membelokkannya ke kiri. Sang ”Kompas 77” pun selanjutnya melaju menyeberangi Sungai Mahakam selebar 950 meter— yang membelah Samarinda (kota) dengan Samarinda Seberang.

Tidak banyak penumpang yang diangkut. Hanya lima orang: dua pria dewasa, seorang ibu dengan anak lelakinya, dan seorang remaja belasan tahun.

Meski tarif sekali menyeberang Rp 4.000 per orang, warga yang memanfaatkan perahu tambangan ini terus berkurang.

Perahu-perahu jenis itu pun demikian. Jumlahnya terus merosot sejalan dengan perbaikan sarana transportasi di Kota Samarinda, yakni pembangunan dua jembatan, Mahakam I dan Mahakam II, yang hingga kini masih dalam pengerjaan.

Diperkirakan, kemudahan warga mendapatkan sepeda motor menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya jumlah penumpang kapal kelotok tersebut. Saat ini, dengan membayar uang muka Rp 500.000 hingga Rp 1 juta, warga sudah bisa menguasai sepeda motor kredit dan memanfaatkannya untuk pergi ke mana-mana, termasuk melalui Jembatan Mahakam I dan II.

Koperasi

Tentang nama perahu ”Kompas”, Riki mengatakan, itu bukan sekadar meniru nama sebuah koran nasional, melainkan merupakan akronim dari Koperasi Motor Taksi Air Mangkupalas, salah satu koperasi angkutan penyeberangan yang ada di Samarinda yang berdiri tahun 1984. Adapun 77 adalah nomor lambung perahu.

Koperasi tersebut, menurut Riki, sebelumnya dilengkapi sedikitnya 103 perahu anggota. ”Tapi, sekarang tinggal sekitar 50 perahu. Masing-masing perahu berkekuatan mesin sekitar 20 PK,” ujarnya.

Bicara soal penumpang yang minim, Riki mengatakan, ia tidak terlalu merisaukannya. ”Perahu yang saya beli dengan harga Rp 20 juta ini masih bisa menghasilkan uang hingga Rp 200.000 per hari,” ujarnya memberi alasan.

Setelah menurunkan penumpang di Jembatan Mesjid, sebuah perkampungan di Samarinda, dan Dermaga 79, Kompas 77 langsung kembali ke Dermaga Mangkupalas di Samarinda Seberang. Setiba di tujuan, sudah ada sembilan orang yang menunggu untuk menyeberang ke Samarinda kota.

”Saya biasa bolak-balik tujuh kali sehari naik perahu ini. Kalau bermotor atau angkutan kota itu lama karena harus memutar,” cerita Aziz, penumpang asal Mangkupalas.

Begitu mereka sudah di perahu, Riki ataupun para motoris perahu tambang di dermaga itu umumnya tidak bisa berlama-lama menunggu tambahan penumpang sebab penumpang yang sudah ada akan protes.

Kondisi ini, menurut Riki, kontras dengan suasana tahun 1990-an. Saat itu orang harus antre agar bisa dibantu menuju ke seberang. Satu perahu kelotok, jika dipaksakan, bisa memuat hingga 50 penumpang, bahkan sebagian harus berada di atap.

”Saat ini calon penumpang mengantre adalah pemandangan yang sulit ditemui,” kata Sukri, petugas penarik retribusi dermaga penyeberangan jurusan Mangkupalas.

Yang membuat perahu kelotok masih bertahan, antara lain, juga karena awak kapal-kapal berukuran besar memanfaatkannya untuk bepergian ke Samarinda kota saat mereka melabuh jangkar di tengah Sungai Mahakam. Selain itu, kapal itu disewa warga untuk memancing di perairan tersebut.

Sayangnya, perahu-perahu kelotok itu tidak banyak dilirik sebagai transportasi sungai yang unik untuk pengembangan wisata air di Sungai Mahakam. Sungguh ironis, Kota Samarinda yang berada di pinggiran sungai membiarkan nasib perahu tambangan sebagai transportasi khas Sungai Mahakam hilang satu per satu. (Defri Werdiono)  Sumber : Kompas.com,05-01-2010
 
Kalender Agenda
previous month March 2010 next month
M T W T F S S
week 9 1 2 3 4 5 6 7
week 10 8 9 10 11 12 13 14
week 11 15 16 17 18 19 20 21
week 12 22 23 24 25 26 27 28
week 13 29 30 31
Polling
Bagaimana menurut Anda website BKD Tipe 3 ini?

Please register to vote