Memanfaatkan Cagar Budaya sebagai Obyek Wisata Potensial
Strategi Pengelolaan Peninggalan Sejarah Sangasanga (1)
TIDAK banyak orang tahu bahwa Sangasanga, Kukar pada hakekatnya mempunyai banyak obyek wisata sejarah yang sangat potensial untuk dikelola. Dilihat dari bukti sejarah yang berupa peninggalan yang ada di kota itu seperti gedung Pasar, bangsal Heiho,rumah Penjara Gunung Selendang dan lainnya, menunjukkan bahwa Belanda cukup lama bercokol di kota ini.
Belanda bahkan sempat mendirikan pabrik serta pusat pengeboran minyak, mereka menyedot sumber kekayaan Indonesia untuk menunjang kekuatan ekonomi negeri Belanda. Selain dari pada itu, rumah-rumah tradisonal dengan arsitektur yang sangat istimewa merupakan daya tarik tersendiri bagi Sanga Sanga.
Namun perlu disadari bahwa mengelola termasuk memanfaatkan benda cagar budaya, situs, ataupun kawasan arkeologi sebagai warisan budaya bangsa adalah pekerjaan yang tidak mudah. Ada tiga pokok pikiran atau kepentingan dalam manajemen sumber daya budaya tersebut. Pertama, kepentingan ideologi yaitu konsep yang berkaitan dengan jati diri bangsa. Konsep ini muncul di ujung abad ke 20 ketika negara-negara berkembang telah melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme, mereka kemudian bersusah payah dan seakan berlomba mencari jati diri mereka karena telah diacak-acak oleh penjajah selama ratusan tahun.
Secara ekstrim kegoncangan hebat dalam mencari jati diri tersebut ditunjukkan oleh salah satu negara di Afrika yaitu Rhodesia. Negara itu mengganti namanya menjadi Zimbabwe, nama baru tersebut adalah nama bangunan bersejarah (baca: candi) yang merupakan warisan budaya dari nenek moyang mereka.(***/bersambung/sapos.co.id/31/03/2010)




