Bupati Kukar Diminta Kerja 16 jam
TENGGARONG – Menteri Budaya dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik meminta Bupati Kukar Rita Widyasari jangan terlena dengan kemenangan dan lebih memperhatikan rakyat Kukar dengan bekerja 16 jam setiap hari.
"Mumpung Bupati ini masih muda, maka harus lebih banyak bekerja untuk memperhatikan rakyatnya, porsinya 16 jam setiap hari," ujarnya di sela kunjungan ke Pulau Parai Kumala, Senin (12/7).
Jero juga menyingung kondisi hutan di Kaltim yang kian menipis. Ia mengatakan, saat melalui jalur darat, hutan Kaltim sepertinya masih asri dan lebat. Berbeda jauh dengan kondisi sebenarnya jika dilihat dari udara. "Perjalanan saya dari Balikpapan ke Kukar memang di sepanjang jalan saya lihat masih banyak hutan lebat, tapi ketika saya melihat dengan menggunakan helikopter, tak sedikit juga hutan yang sudah gundul. Hal ini juga yang juga harus dikerjakan Bupati terpilih, perbanyak tanam pohon," katanya.
Ia juga menjelaskan, lingkungan hidup merupakan satu dari empat tugas Menbudpar yang dikenal dengan sebutan Triple Target Plus One. Jero juga berpesan agar warga Kukar wajib menjaga objek pariwisata yang menjadi andalan Kukar. "Pariwisata bukan hanya adat istiadat, namun di dalamnya ada keindahan alam sebuah daerah yang menjadi daya tarik tersendiri," pungkasnya.
Jero sebelumnya ke Pulau Parai Kumala untuk re-launching Pulau Parai Kumala, meresmikan radio Kumala FM, dan menaman pohon buah. Jero Wacik menyatakan, Pulau Kumala yang setelah dikelola PT El Jhon Indonesia berubah nama mejadi Parai Kumala memang sempat terhenti di bawah manajemen Pemkab Kukar.
"Untuk radio Kumala, janganlah menyajikan banyak berita-berita yang jelek. Buatlah berita yang bagus, indah dan menghibur. Harapan saya, radio ini dapat menjadi ladang informasi tentang pariwisata di Kukar," katanya.
Terpisah, Direktur Utama El-Jhon Indonesia Jhonie Sugiarto mengatakan, radio Kumala FM pada jalur 90,5 FM tersebut merupakan radio pertama di Kaltim yang membahas soal pariwisata. "Selain radio Kumala, kami juga mepersiapkan lahan sekitar 14 ha yang akan ditanami pohon buah dan pohon langka yang ada di Kaltim ini. Termasuk, kami ingin menjadikan Parai Kumala sebagai ikon wisata di Kaltim," ujarnya.
Festival Jajak dalam Pesta Adat Erau Bepelas 7 Benua yang diselenggarakan di sekitar pinggir tebes Sungai Tenggarong atau tepatnya di depan Kediaman Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dimulai kemarin.
Jajak dalam bahasa Kutai berarti jajanan. Festival Jajak ini merupakan bagian dari Pekan Jajak di atas Gubang atau perahu yang digelar Dinas Budaya & Pariwisata (Disbudpar) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam rangka menyemarakkan Erau Bepelas 7 Benua tahun 2010. Festival Jajak ini menggunakan 15 perahu untuk membawa 20 macam jajanan khas Kutai. "Dengan membawa uang seratus rupiah, masyarakat dapat membeli jajak di sekitar pinggir tebes Sungai Tenggarong (depan rumah Sultan) antara pukul 09.00 hingga 10.30 mulai Senin (12/7) sampai, Sabtu (17/7)," ujar Hamsi Hamzah Kasi Pengembangan Seni Budaya Disbudpar Kukar.
Uniknya, selain dilakukan di atas gubang atau perahu sambil menyusuri Sungai Tenggarong, ibu-ibu yang berjualan jajanan serta si pendayung perahu sama-sama mengenakan pakaian khas Kutai. (asi/tribunkaltim.co.id/14/07/2010)




