Pensiunan Tidak Kembalikan Mobil Dinas
CILEGON, KOMPAS.com — Puluhan pensiunan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon enggan mengembalikan kendaraan dinas yang dipakainya sewaktu menjabat.
"Padahal sesuai aturan, kendaraan dinas semestinya diserahkan kepada pemerintah kembali untuk digunakan oleh pejabat yang masih aktif," kata Anggota Komisi III DPRD Kota Cilegon, M Yusuf Amin, Rabu (21/7/2010).
"Jangan heran, kalau dalam LHP BPK tahun anggaran 2009 yang telah disampaikan, adanya Rp 3 miliar aset milik Pemkot Cilegon yang hilang. Salah satunya adalah kendaraan dinas yang tidak dikembalikan," katanya.
Mestinya ada kesadaran tinggi dari mantan pejabat untuk mengembalikan kendaraan dinas. Pasalnya, kendaraan roda empat yang dipakainya adalah bukan hak milik, melainkan pinjam pakai.
"Pinjam pakai. Itu artinya orang bersangkutan tidak boleh memilikinya dan kalau sudah tidak menjabat lagi atau pensiun, harus segera dikembalikan, jangan dimiliki," terangnya.
Salah satu contoh, terang Yusuf, satu unit mobil dinas milik pimpinan DPRD periode 1999-2004, jenis sedan merek New Corrola saat ini justru malah berada dalam penguasaan perorangan yang mengaku mendapatkan mobil tersebut sebagai barang jaminan dalam urusan utang-piutang.
Disinggung mengenai kemungkinan bahwa mobil-mobil dinas tersebut telah beralih kepemilikan secara resmi melalui proses lelang, disebutkan dia, hal tersebut tidak mungkin. Sebab, peralihan kepemilikian atau dum memerlukan proses yang lama.
Oleh karenanya, Yusuf berjanji akan mempertanyakan perihal itu dalam rapat pembahasan LHP BPK antara Komisi III dan Asisten Daerah (Asda) III Pemkot Sarti Suryati yang diagendakan hari Kamis mendatang.
Dia juga menyesalkan adanya kelambanan dari dinas terkait untuk segera menarik kendaraan dinas dari sejumlah pejabat yang sudah pensiun itu.
"Harusnya Pemkot Cilegon responsif, dan melakukan aset kendaraan dengan detail sehingga dapat mengetahui pejabat mana saja yang menggunakan fasilitas dan akan pensiun," ungkap dia.
Sementara itu, Asda III Pemkot Sarti Suryati tidak dapat dihubungi. Telpon selulernya aktif, tetapi tidak dijawab.(kompas.com/22/07/2010)




