Samarinda Kekurangan Guru Sosiologi
SAMARINDA – Mata pelajaran Sosiologi tidak bisa dianggap remeh, karena termasuk dalam mata pelajaran Ujian Nasional (UN) untuk jurusan IPS. Sayangnya, jumlah guru Sosiologi yang ditempatkan di berbagai sekolah di Samarinda belum mencukupi.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda, Harimurti WS, jumlah guru Sosiologi di Samarinda hanya beberapa orang saja. Alhasil, hal ini berpengaruh terhadap pencapaian nilai UN murid-murid dan cukup banyak murid yang tak lulus dalam mata pelajaran Sosiologi.
"Saat UN lalu, cukup banyak murid jurusan IPS yang harus mengulang pada mata pelajaran Sosiologi, selain Matematika dan Bahasa Inggris," kata Harimurti, Minggu (26/9).
Kendati belum bisa menyebut pasti jumlah guru Sosiologi saat ini, namun guru Sosiologi menjadi hal yang diprioritaskan Disdik dan diusulkan kepada BKD (Badan Kepegawaian Daerah) dalam penerimaan guru. "Untuk saat ini, kebutuhan guru Sosiologi di beberapa sekolah diisi oleh guru Pkn, Sejarah atau Agama," paparnya. Minimnya guru Sosiologi, kata Harimurti, disebabkan karena hanya beberapa perguruan tinggi saja yang membuka program studi guru Sosiologi. "Di sini saja, setahu saya tidak ada," ujarnya.
Selain guru Sosiologi, berbagai sekolah di Samarinda juga masih membutuhkan guru mata pelajaran Geografi. Untungnya, kekurangan guru Geografi belum begitu berpengaruh terhadap nilai UN. "Dari UN lalu, tidak terlalu berpengaruh. Tapi kekurangan guru Sosiologi dan Geografi, kami minta menjadi skala prioritas untuk dipenuhi. Kalau perlu ditawarkan ke luar daerah karena kebutuhan saat ini," ujarnya.
Disdik juga terus melakukan evaluasi sekaligus penataan untuk mata pelajaran dalam UN lalu. Selain kejatuhan nilai dalam pelajaran Sosiologi, cukup banyak murid yang mengulang dalam mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.
"Tapi kalau untuk Matematika dan Bahasa Inggris bukan karena kekurangan jumlah guru, melainkan metode pembelajarannya. Jadi guru harus mulai mengubah sikapnya dan jangan mengatakan Matematika sebagai pelajaran yang sulit, justru harus menyenangkan. Begitu juga dengan Bahasa Inggris," ujarnya. (may/tribunkaltim.co.id/27/09/2010)
Share




