Guru Berperan Berantas Buta Aksara
PROFESI guru sebagai pendidik anak bangsa kini memiliki tugas yang lebih berat. Tugas itu adalah turut berperan serta memberantas buta aksara. "Peran guru itu berat. Disamping mendidik anak menjadi orang pintar juga harus bisa tergerak berperan serta memberantas buta aksara,"kata Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Abdul Djalil Fattah.
Beban tugas guru tersebut memberantas buta aksara sama berat dengan dengan tugas utama.
Ia menuturkan, masalah buta aksara itu diakui bukan didominasi usia dini atau usia sekolah tetapi mencakup juga ke arah usia produktif.
"Mengajar buta aksara yang sudah bukan remaja lagi tentu memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Dengan usia bukan muda tentu daya tangkap tidak sama seperti anak anak. Yang jelas perlu kesabaran extra,"ucap Abdul Djalil.
Guna mendorong agar guru ikut berperan serta mengurangi jumlah angka buta aksara, Abdul Djalil, menuturkan, perlu ada singkronisasi program antara Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim dengan Disdik kabupaten/kota.
Disamping itu singkronisasi sama adalah memberikan pelatihan serta memberikan uang lelah untuk tugas tambahan mengajar baca tulis bagi warga tidak mengenal huruf. "Di samping itu kota/kabupaten diberi kewajiban memberi dana pendamping atau insentif. Dana ini bisa digunakan untuk tambahan semisal operasional mengajar atau untuk membeli alat tulis,"tegas Djalil.
Dari sudut peralatan demikian guru pantas memperoleh fasilitas pendukung seperti alat peraga ataupun video yang menampilkan cara belajar membaca dan berhitung. "Dengan peralatan lengkap akan menjadi mudah mengurangi buta aksara,"ungkap Djalil.(samarindapost.co.id/22/12/2010)




