Guru SMA 10 Minta Mutasi
Nilai Janji Gubernur Tak Terbukti
SAMARINDA – Polemik SMA 10 Samarinda masih berlanjut dan tidak menemui titik terang. Bahkan belakangan para guru pun menjadi resah. Di antara mereka merasa sudah tak nyaman lagi mengajar dan meminta dimutasi ke sekolah lain.
“Guru-guru minta mutasi tapi saya tahan. Saya sampaikan, situasi yang sekarang kami hadapi sama seperti bertinju. Jangan sampai keluar ring kecuali KO (Knock Out, Red.) atau kalah,” ujar Kepala SMA 10 Hidayat.
Sebelum pertemuan 23 Desember 2010 antara Pemprov Kaltim, Yayasan Melati, Pembina Yayasan Melati, dan tim terpadu penyelesaian polemik SMA 10, kata Hidayat, perwakilan guru menghadap Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Saat itu, katanya, Gubernur menjanjikan akhir Desember persoalan ini sudah selesai. Tapi kenyataannya masih berlanjut. Bahkan, Yayasan Melati yang sebelumnya telah memutus hubungan dengan Disdik kembali disambung untuk urusi SMA 10.
“Kelanjutan kerja sama dengan Yayasan Melati ini membuat guru frustasi. Selama ini yayasan hanya menyusahkan guru dan siswa dalam hal manajemen sarana dan asrama,” tegas Hidayat.
Sementara itu, Suyanto, salah satu guru SMA 10 mengatakan, kondisi sekolah yang tidak menentu berdampak pada ketidaknyamanan mengajar. “Walau kami adalah pendidik, tapi juga ada kegamangan terkait penyelesaian polemik SMA 10 yang berlarut-larut,” paparnya.
Untuk diketahui, hasil pertemuan 23 Desember lalu disepakati akan ada kerja sama lagi antara Yayasan Melati dengan Pemprov Kaltim. Mengenai perjanjian akan ada addendum khususnya mengenai subjek hukum, karena kerjasama lama antara Yayasan Melati dengan Kanwil Depdikbud Kaltim. Sedangkan sekarang Kanwil Depdikbud Kaltim berubah nama menjadi Disdik Kaltim.
“Kami tidak berharap banyak selain ketenangan dalam belajar-mengajar. Kami tidak ingin menjelang UN (Ujian Nasional, Red.) kejadian sebelum ujian semester terulang lagi,” harap Suyanto.
Ditegaskannya, laboratorium merupakan alat yang sangat vital dalam ujian praktik, tapi menjelang ujian semester, yayasan melakukan pemindahan laboratorium komputer dengan alasan yang tidak logis. “Kami selaku guru tidak menyoal seperti apa penyelesaian polemik SMA 10. Yang kami butuhkan hanya rasa nyaman, begitu pula dengan anak didik. Saya sangat kasihan pada anak didik,” katanya.
Apakah akan ada dampak dari polemik ini terhadap prestasi siswa, khususnya menghadapi UN nanti? “Saya yakin akan berpengaruh,” jawabnya. Hal ini yang menjadi beban guru karena selama ini SMA 10 dianggap sebagai sekolah unggulan. “Semoga persoalan ini cepat berakhir. Kami sepenuhnya mendukung Komite Sekolah karena komite adalah kepanjangan tangan orangtua,” kata Suyanto.(*/ocr/kaltimpost.co.id/11/01/2011)




