Dari Mutasi di Lingkungan Pemkot Samarinda
Bikin CEO, Dicari Kepala SKPD Bertalenta Tinggi
Mutasi besar-besaran di lingkungan Pemkot Samarinda bergulir lagi. Saya jadi teringat ketika diskusi Forum Kota Kaltim Post, 7 Januari 2012 lalu. Ada pernyataan menarik dilontarkan narasumber diskusi, anggota DPRD Kaltim Andi Harun. Yakni, kalau pemkot mau maju angkat saja seorang chief executive officer (CEO) yang tugasnya memikirkan kota ini menjadi lebih maju, lengkap dengan kemampuan menggaet investor.
LHO, kalau gitu fungsi wali kota Samarinda, wawali, sekkot, dan kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) apa dong? Saya tak ingin berdebat dengan fungsi mereka, namun saya kali ini sepakat dengan pernyataan Andi Harun. Kenapa? Saya tak melihat ada gambaran menggembirakan dari mutasi delapan kepala dinas, satu asisten plus kepala bidang. Tapi, mungkin kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) yang baru bisa dicoba kemampuannya. Setidaknya, diperlukan kepala DBMP yang mampu menghabiskan uang ratusan miliar bantuan Pemprov Kaltim dalam waktu cepat. Sudah dapat uang, menghabiskan saja susah, ini yang repot. Bukankah lebih sulit menghabiskan uang dibandingkan mencari.
Lalu apa fungsi CEO itu. Meski sesuatu yang mustahil dipenuhi Syaharie Jaang (wali kota Samarinda), tapi sepertinya layak dicoba. Se-Indonesia Raya ini mungkin hanya Samarinda yang punya (kalau mau mencoba). Saya membayangkan CEO itu malah berkantor di Jakarta dan Samarinda (hanya kepentingan koordinas saja). Kenapa? Karena tugasnya benar-benar menjadi penjual Samarinda. Dia yang mencari tau sumber-sumber dana yang beredar di berbagai kementerian, hingga di DPR RI. Penghubung dengan para senator. Misalnya, ketika Samarinda sedang berkeinginan menjadi kota wisata, tugas CEO beserta timnya adalah merumuskan kota wisata dimaksud. Lalu, mewujudkan dalam bentuk pencarian finansial hingga memastikan semuanya terlaksana. Misalnya pula, ketika sang wali kota berkeinginan mengubah wajah tepian Sungai Mahakam menjadi lebih dasyat, adalah tugas CEO itu mewujudkan mimpi tersebut.
Sepertinya gampang? Meski harus membayar mahal CEO tersebut (bahkan bergaji lebih mahal dari wali kota dan wawali), saya kira sepanjang hasilnya lebih baik, tentu harus didukung. Lalu fungsi wawali dan sekkot apa ya? Saya kira, sekkot tugasnya sudah jelas lebih banyak mengurusi persoalan “dalam negeri” Pemkot Samarinda. Wawali menjadi perpanjangan tangan wali kota (mungkin sudah ada pembagian tugas di antara keduanya).
Ketika CEO ini banyak bergerak ke luar mewakili kepentingan Pemkot atau wali kota, saya kira wali kota akan lebih banyak berada di Samarinda. Kenapa? Karena fungsi-fungsi lobi sudah dimainkan sang CEO. Kepala dinas tak perlu lagi setiap minggu ke Jakarta untuk urusan ke kementerian atau apapun alasan yang muncul (terutama menjelang akhir tahun).
Tapi apakah benar-benar tak ada harapan pada “skuad baru Syaharie” Jaang. Meski Jaang sendiri berusaha mencari formasi yang tepat. Saya melihat penempatan pejabat pada posisi tersebut lebih banyak unsur rasa, bukan pada kemampuan. Kenapa tak berani mengambil dari pejabat di bawah yang jangan-jangan punya kemampuan lebih baik. Bikin saja pengumuman PNS di lingkungan pemkot. Siapapun bisa menduduki posisi kepala dinas atau kepala badan, kalau punya program baik. Tentu dengan catatan ketika enam bulan program tak terjalankan dengan baik, si pegawai bersangkutan siap-siap diganti. Kepala SKPD terlalu nyaman. Tak ada tolok ukur keberhasilan untuk mereka. Tak berhasil tetap menduduki posisi itu. Yang penting baik-baik saja dengan wali kota. Tak berhasil pun mereka tetap mendapatkan tunjangan dan gaji yang sama. Kepala dinas kan tinggal berharap dapat anggaran besar. Ketika anggaran kecil, pilih diam saja. Dicari kepala dinas yang ketika anggaran kecil (meski saya tau di beberapa SKPD sudah ada) malah bikin gerakan mencari duit ke ke mana-mana.
Enak dong! Jelas enak. Kenapa? Karena mereka bukan swasta. Ketika seorang direktur utama atau manajer pada satu perusahaan swasta tak berhasil, pilihan utama adalah dimundurkan pemegang saham atau dipecat. Kepala dinas? Sampai tua dia tetap akan menduduki posisi penting. Paling jelek turun menjadi staf ahli. Saya kira sudah saatnya tak ada perpanjangan waktu untuk kepala SKPD yang sudah tua. Masih banyak orang muda bisa memimpin Samarinda. Percayakan pada mereka. Akhirnya, selamat untuk kabinet baru Syaharie Jaang. Meski harus saya nyatakan tak ada harapan pada kabinet baru ini mampu membawa Samarinda menjadi lebih baik, semoga ini pernyataan pelecut semangat. (kaltimpost.co.id/23/01/2012)




