DPRD Nilai Ada yang Ganjil dalam Mutasi Guru
Balikpapan - Aksi unjuk rasa siswa SMAN 5 Balikpapan mempertahankan guru yang dimutasi mendapat perhatian banyak pihak. DPRD Kota Balikpapan menilai ada keganjilan dalam mutasi guru. Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapa Riza Permadi meminta Kepala Dinas Pendidikan melakukan pertimbangan mendalam saat melakukan mutasi guru. Pertimbangan harus logis dan lebih bijaksana.
"Seharusnya mutasi dikaji lebih mendalam dengan pertimbangan yang logis, misal kedekatan tempat tinggal. Jangan sampai muncul kesan ada faktor kedekatan dengan guru tertentu," kata Riza saat dikonfirmasi Tribun, Minggu (31/1/2010).
Wakil rakyat dari PDI Perjuangan ini mengungkapkan, ada beberapa guru yang menghadap ke Komisi IV mengonsultasikan masalah mutasi tersebut. Guru-guru tersebut mempertanyakan masalah guru dengan sertifikasi BK menjadi guru olahraga, serta guru SMA yang dimutasi menjadi guru SMP.
"Kami juga sempat merasa aneh dengan hal mutasi seperti itu. Namun, kami belum sempat mempertanyakan ke Disdik, sudah muncul ralatnya," ujarnya. Riza menilai wajar adanya aksi unjuk rasa siswa terkait mutasi menjelang ujian akhir tersebut. "Kalau memang guru itu baik, wajar saja kalau dibela murid-muridnya," tuturnya. Guru, kata Riza, tidak sama seperti PNS lain, karena guru memiliki hubungan emosional dengan siswa.
Terpisah, Psikolog Patria Rachmawaty, Psi dari Biro Konsultasi Psikologi Belvalina berpendapat, munculnya kedekatan emosional antara guru dan murid merupakan hal wajar. Karena tugas guru tidak sekadar mengajar, tetapi juga pembentukan moral dan kepribadian.
"Semua guru seharusnya memiliki ikatan emosional dengan anak didiknya. Aspek profesional antara guru dan murid juga jangan sampai dilupakan," tutur Patria.
Di usia remaja, menurut Patria, para siswa ingin dipahami dan bisa dimengerti oleh lingkungan sekitar, termasuk guru. Wajar jika siswa bisa merasa nyaman dan percaya dengan guru-guru tertentu ketimbang orang tuanya. Melalui kedekatan ini, pengaruh guru sangat penting terhadap perkembangan emosi remaja yang memang masih belum stabil.
Meski demikian, Patria menyayangkan aksi unjuk rasa yang dilakukan siswa SMAN 5. Hal itu bisa menimbulkan pembentukan opini publik dan penilaian terhadap sekolah sebagai sebuah institusi. Ditambahkan, waktu yang tidak tepat saat melakukan mutasi bisa berpengaruh kepada persiapan psikologis para murid. "Kita tidak bisa menyalahkan salah satu pihak saja. Menjelang ujian akhir, inilah saatnya guru yang ada menjadi motivator belajar para siswa, " ujarnya. (joe/tribunkaltim.co.id/01/02/2010)




