Imdaad Bela Keputusan Mutasi Guru
Sesalkan Pelajar Balikpapan Ikut-ikutan Demo
BALIKPAPAN-Aksi demo para pelajar di dua sekolah favorit di Balikpapan, yakni di SMAN 5 dan SMAN 1, disesalkan Wali Kota H Imdaad Hamid SE. Menurut Imdaad. aksi demo inimerupakan pengaruh situsai dan kondisi yang terjadi di Balikpapan saat ini. Maraknya demonstrasi yang dilakukan masyarakat Balikpapan, baik demo yang mengangkat isu nasional, maupun demonstrasi terkait isu lokal Balikpapan, bisa jadi ikut terpengaruh.
“Siswa sampai demo, karena pengaruh kondisi yang terjadi saat ini,” kata Imdaad saat meninggalkan ruang rapat I balikota, Senin (1/2) kemarin. Permasalahan yang terjadi di sekolah, yang menyebabkan para siswa-siswinya mengelar demonstrasi, terletak pada adanya rencana mutasi guru-guru di beberapa sekolah yang ada di Balikpapan.
Para pelajar menganggap, mutasi terhadap guru mereka tidak beralasan. Karena kinerja para guru yang akan dimutasi, dianggap bagus. Selain itu, konsentrasi para pelajar yang akan menghadapi Ujian Nasional tidak lama lagi, diprediksi akan tergangu dengan adanya mutasi guru tersebut. Namun wali kota menegaskan, mutasi guru perlu dilakukan.
Mengingat, kurang meratanya tenaga pengajar di tiap-tiap sekolah yang ada di Balikpapan. “Jadi, mutasi dilakukan agar terjadi pemberataan guru. Karena, ada sekolah yang kelebihan dan pula sekolah yang kekurangan guru,” tandasnya. Selain itu, adanya aturan yang mengharuskan setiap guru wajib melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah selama 24 jam tiap minggunya, sebagai kompensasi terhadap insentif yang diterima guru tersebut.
Kondisi yang terjadi terhadap guru di tiap-tiap sekolah di Balikpapan, banyak yang belum memenuhi ketentuan waktu mengajar 24 jam, namun selalu menerima insentif. Jika hal tersebut terus dibiarkan, kata Imdaad, maka Pemerintah melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Dinas Pendidikan (Diknas), akan memberi teguran keras terhadap Pemkot dan Disdik Balikpapan, terkait masalah jam mengajar guru tersebut.
“Kita terus di warning BPKP dan Diknas, Kalau sampai ada guru yang ketahuan hanya mengajar kurang dari 24 jam satu minggu, maka insentifnya akan dicabut,” ungkapnya. Selain itu, Imdaad menganggap, domonstrasi adalah upaya terakhir para pelajar untuk menyampaikan aspirasinya.
Hal tersebut sangat disayangkannya, karena semua permasalahan dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik, tanpa harus mengelar demonstrasi yang belum tentu dapat menyelesaikan masalah yang terjadi. “Demo merupakan upaya terakhir. Jika nego tidak menemui hasil,” terangnya.
Ia memandang, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolah, memegang peran penting yang menyebabkan terjadinya demonstrasi, yang dilakukan para pelajar di dua sekolah tadi. Kurangnya koordinasi antara pihak sekolah dengan para siswa melalui OSIS, dianggap sebagai pemicu.
Sehingga, penyelesaian terhadap permasalahan yang terjadi di sekolah, hanya diputuskan sepihak oleh pihak sekolah, tanpa mengajak perwakilan siswa melalui OSIS untuk membicarakan masalah tersebut. “Jika ada masalah, OSIS bisa menengah, dan menjadi jembatan para siswa untuk menyampaikan aspirasinya ke pihak sekolah,” pungkas Imdaad.(mm-1/metrobalikpapan.co.id/02/02/2010)
BALIKPAPAN-Aksi demo para pelajar di dua sekolah favorit di Balikpapan, yakni di SMAN 5 dan SMAN 1, disesalkan Wali Kota H Imdaad Hamid SE. Menurut Imdaad. aksi demo inimerupakan pengaruh situsai dan kondisi yang terjadi di Balikpapan saat ini. Maraknya demonstrasi yang dilakukan masyarakat Balikpapan, baik demo yang mengangkat isu nasional, maupun demonstrasi terkait isu lokal Balikpapan, bisa jadi ikut terpengaruh.
“Siswa sampai demo, karena pengaruh kondisi yang terjadi saat ini,” kata Imdaad saat meninggalkan ruang rapat I balikota, Senin (1/2) kemarin. Permasalahan yang terjadi di sekolah, yang menyebabkan para siswa-siswinya mengelar demonstrasi, terletak pada adanya rencana mutasi guru-guru di beberapa sekolah yang ada di Balikpapan.
Para pelajar menganggap, mutasi terhadap guru mereka tidak beralasan. Karena kinerja para guru yang akan dimutasi, dianggap bagus. Selain itu, konsentrasi para pelajar yang akan menghadapi Ujian Nasional tidak lama lagi, diprediksi akan tergangu dengan adanya mutasi guru tersebut. Namun wali kota menegaskan, mutasi guru perlu dilakukan.
Mengingat, kurang meratanya tenaga pengajar di tiap-tiap sekolah yang ada di Balikpapan. “Jadi, mutasi dilakukan agar terjadi pemberataan guru. Karena, ada sekolah yang kelebihan dan pula sekolah yang kekurangan guru,” tandasnya. Selain itu, adanya aturan yang mengharuskan setiap guru wajib melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah selama 24 jam tiap minggunya, sebagai kompensasi terhadap insentif yang diterima guru tersebut.
Kondisi yang terjadi terhadap guru di tiap-tiap sekolah di Balikpapan, banyak yang belum memenuhi ketentuan waktu mengajar 24 jam, namun selalu menerima insentif. Jika hal tersebut terus dibiarkan, kata Imdaad, maka Pemerintah melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Dinas Pendidikan (Diknas), akan memberi teguran keras terhadap Pemkot dan Disdik Balikpapan, terkait masalah jam mengajar guru tersebut.
“Kita terus di warning BPKP dan Diknas, Kalau sampai ada guru yang ketahuan hanya mengajar kurang dari 24 jam satu minggu, maka insentifnya akan dicabut,” ungkapnya. Selain itu, Imdaad menganggap, domonstrasi adalah upaya terakhir para pelajar untuk menyampaikan aspirasinya.
Hal tersebut sangat disayangkannya, karena semua permasalahan dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik, tanpa harus mengelar demonstrasi yang belum tentu dapat menyelesaikan masalah yang terjadi. “Demo merupakan upaya terakhir. Jika nego tidak menemui hasil,” terangnya.
Ia memandang, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolah, memegang peran penting yang menyebabkan terjadinya demonstrasi, yang dilakukan para pelajar di dua sekolah tadi. Kurangnya koordinasi antara pihak sekolah dengan para siswa melalui OSIS, dianggap sebagai pemicu.
Sehingga, penyelesaian terhadap permasalahan yang terjadi di sekolah, hanya diputuskan sepihak oleh pihak sekolah, tanpa mengajak perwakilan siswa melalui OSIS untuk membicarakan masalah tersebut. “Jika ada masalah, OSIS bisa menengah, dan menjadi jembatan para siswa untuk menyampaikan aspirasinya ke pihak sekolah,” pungkas Imdaad.(mm-1/metrobalikpapan.co.id/02/02/2010)




