Pemkab Segera Bahas Bersama Pemprov

Rumah Warga Banyak Retak

TENGGARONG – Ancaman penutupan jalan yang dilakukan 20 ribu warga 6 desa di Tenggarong Seberang, mendapat respons Penjabat (Pj) Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Sulaiman Gafur. Dia berharap warga dapat menahan emosi, sementara dirinya membicarakan masalah itu dengan semua instansi terkait, terutama di Pemprov Kaltim. “Jangan melakukan tindakan yang bisa merugikan kita semua.

Saya akan koordinasikan dengan provinsi,” katanya, Senin (1/1) lalu. Menurutnya, jalan poros Samarinda-Sebulu yang dikeluhkan warga rusak akibat aktivitas truk tambang adalah wewenang pemprov. Karena, status jalan itu jelas milik pemprov. “Tapi, kalau memang tak ada izin menggunakan jalan umum (perusahaan tambang, Red.), pasti akan ada tindakan. Kalau soal izin, harusnya mereka memiliki izin dari Dinas PU atau Dinas Perhubungan Kaltim.

Rencananya, dalam waktu dekat ini kami akan membahas ini dengan pemprov,” tegasnya. Seperti diberitakan, kerusakan jalan milik pemprov di Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar) akibat aktivitas truk tambang, menuai kecaman warga. Lebih 20 ribu warga di 6 desa di Tenggarong Seberang mengancam akan menutup jalan poros Samarinda-Sebulu yang melewati desa mereka, bila 10 hari lagi tak ada jawaban dari pemerintah.

Kepala Desa Bukit Pariaman, Desa Suka Maju, Desa Kerta Buana, Desa Manunggal Jaya, Desa Bangunrejo, dan Desa Bhuana Jaya telah membuat surat ke Gubernur Kaltim tertanggal 5 Oktober 2009 mengenai tuntutan warga. Pasalnya, jalan poros yang melewati desa itu, baru saja diperbaiki pada 2009. Namun akibat aktivitas truk tambang bermuatan di atas 8 ton dan trailer solar 20 ribu liter, jalan kembali rusak.

Bahkan di beberapa titik, aspal kelas III B yang awalnya mulus sudah berganti dengan tanah berbatu dan dipenuhi lubang. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim Zairin Zain mengatakan, dirinya masih melakukan pengecekan apakah benar ada izin dari pemprov untuk perusahaan menggunakan jalan umum di Tenggarong Seberang. “Sebentar saya cek dulu. Kalau memang tak ada izin, pasti ada penindakan,” janjinya.

RUMAH RUSAK

Sementara, akibat aktivitas truk bermuatan di atas 8 ton dan trailer solar 20 ribu liter yang terus melewati jalur Samarinda-Sebulu, ratusan rumah warga retak, termasuk Masjid Nurul Hidayah di Desa Pariaman. Masjid yang dibiayai APBD Kukar ini, retak-retak di bagian dinding. Padahal pembangunan masjid ini belum selesai. “Banyak yang rusak, Mas.

Sudah kami beritahu ke pemprov melalui surat yang dikirimkan kepala desa, tapi hingga kemarin tak ada tindakan. Retak-retak ini akibat getaran ketika mobil trailer solar 20 ribu liter dan truk tambang bermuatan di atas 8 ton lewat,” kata Ketua Pembangunan Masjid Nurul Hidayah Akhmad Zaeni. Pantauan media ini, masjid berukuran 30 meter kali 30 meter berkapasitas 600 orang ini, memang terlihat keretakan di sejumlah dindingnya.

Ratusan rumah warga juga banyak yang mengalami keretakan. Terutama yang berada di kawasan Desa Bukit Pariaman Separi 1. “Keretakan ini baru mulai terjadi setahun ini, sejak truk dan trailer solar 20 ribu liter itu sering lewat,” kata salah satu warga.

Ketua Forum Warga Tenggarong Seberang Rustam Effendi mengatakan, saat ini dia dan para kepala desa terus berembuk untuk mencari cara mendapat perhatian pemerintah. “Saat ini opsi utama, 10 hari lagi kami akan tetap tutup jalan,” tegasnya.(che/metrobalikpapan.co.id/03/02/2010)
 
Kalender Agenda
previous month May 2012 next month
M T W T F S S
week 18 1 2 3 4 5 6
week 19 7 8 9 10 11 12 13
week 20 14 15 16 17 18 19 20
week 21 21 22 23 24 25 26 27
week 22 28 29 30 31
Polling
Bagaimana menurut Anda website BKD Tipe 3 ini?

Please register to vote

 
buy viagra online | viagra price | viagra side effects | information viagra | buy viagra | buy viagra pills | buy generic viagra | viagra for sale | order viagra online | is viagra safe for women | free viagra sample | viagra natural | female viagra | viagra 6 free samples | USA viagra | Viagra uk | viagra purchase | dosage viagra | discount viagra | viagra cheap | non prescription viagra