Kukar Kekurangan Bidan
Terutama di Kawasan Pedalaman
TENGGARONG. Selama ini Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah dikenal sebagai daerah kaya Sumber Daya Alam (SDA). Hanya sayang, ternyata sampai sekarang justru Kukar masih kekurangan tenaga kesehatan, khususnya bidan.
"Masih kurang sekitar 60-an bidang. Itu khususnya untuk desa-desa di kecamatan yang berada di pedalaman Kukar," ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Abdurachman kepada wartawan, Kamis (7/1) lalu.
Dikatakan, sejumlah kecamatan mengalami kekurangan tenaga bidan itu mencakup Tabang, Muara Muntai dan Muara Wis. Kendati demikian, secara keseluruhan angka kematian ibu melahirkan di Kukar masih rendah. Artinya masih jauh di bawah angka kematian ibu secara nasional.
"Tapi kekurangan tenaga bidan ini harus diantisipasi. Sejauh ini angka kematian ibu secara nasional, mencapai 226 per 100 ribu ibu melahirkan. Nah, akibat kurangnya tenaga bidan membuat warga masih menggunakan jasa dukun melahirkan. Sedangkan mereka (dukun beranak, Red) tidak semua menguasai bidang medis. Itu berpotensi meningkatkan angka kematian ibu di daeeah ini," katanya lagi.
Sebagai antisipasi, Dinkes Kukar terus menerima tenaga bantu teknis kesehatan. Tak hanya bidan, namun dokter dan perawat juga diperbantukan.
"Mereka diangkat melalui nota dinas. Juga ada Akademi Kebidanan Kutai Husada di Tenggarong. Apalagi Pemkab Kukar memberikan beasiswa kepada para mahasiswa di situ. Jadi begitu mereka lulus, lalu ditempatkan di wilayah kekurangan bidan. Saat ini akademi kebidanan akan meluluskan 50-an bidan dengan harapan dapat memenuhi kekurangan bidan," ujar Abdurachman.
Ditambahkan pula, sekarang tenaga bidan di Kukar sebanyak 242 orang. Terdiri dari 220 pegawai negeri sipil, 17 tenaga tidak tetap daerah (T3D) dan 5 pegawai tidak tetap. Kekurangan tenaga bantu ibu melahirkan
"Tenaga bidan masih kurang. Terutama di kawasan pedalaman, karena banyak calon tenaga bidan menolak ditempatkan di desa terpencil. Padahal kami sudah memperbanyak formasi penerimaan calon PNS. Misalnya dibuka 60 orang, kemudian mendaftar hanya 40. nah begitu lulus, eh mereka malah tak mau ditugaskan di pedalaman," katanya.(idn/sapos.co.id.09/02/2010)




