Dinas Perikanan Kekurangan Tenaga Teknis
TENGGARONG. Keluhan para petani ikan keramba di wilayah Kecamatan Loa Kulu, ditanggapi serius oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kutai Kartanegara (Kukar). Namun diakui, sejauh ini tenaga teknis khusus bidang perikanan, masih kurang. Sehingga ketika petani ikan keramba menghadapi masalah, Dinas Perikanan tak begitu berdaya.
"Harus diakui bahwa kami memang sangat kekuarangan tenaga teknis perikanan. Itu merupakan kendala berat, apalagi dari puluhan T3D (Tenaga Tidak Tetap Daera), tak seorang pun memiliki keahlian di bidang perikanan. Sedangkan terkait air bangar di Mahakam, itu kejadian alam," ujar Kepala Dinas Perikanan dan Keluatan Kukar, M Syahran kepada wartawan, Senin (1/3).
Perbandingan antara jumlah petani keramba dengan petugas Dinas Perikanan juga sangat jauh. Bayangkan, seorang petugas menangani 1 kecamatan atau puluhan desa yang dihuni ribuan petani ikan keramba, nelayan dan lain sebagainya.
"Bagaimana pun tugas tenaga ahli perikanan itu berat, jika melihat cakupan wilayah tugasnya," tambahnya.
Sementara terkait upaya menangani kenaikan harga pakan ikan, Syahran menyebut pihaknya cukup maksimal. Terutama di wilayah Loa Kulu yang selama ini memang menjadi salah satu sentra perikanan Kukar, termasuk Kaltim.
"Untuk pakan ikan, kami sudah mendapatkan alat pembuatnya yang salurkan ke Loa Kulu. Masing-masing berkapasitas 50 ton per jam, 2 unit diberikan ke Jembayan dan 2 lagi diberikan di Tenggarong. Hanya kesulitannya alat itu terkendala bahan baku," kata Syahran sembari menyebut bahan baku menjadi kendala utama.
Sedangkan menanggapi keluhan air bangar, Syahrani menyebutkan saat ini kondisi air Sungai Mahakam mulai membaik. Jika sebelumnya kualitas air buruk, saat ini tingkat oksigen terlarut sudah menjadi 4,5. Artinya petani keramba bisa menempatkan kembali ikannya di Mahakam.
"Kondisinya tak lagi buruk seperti beberapa hari lalu," ujarnya lagi.
Seperti diberikan, kualitas air Mahakam memburuk. Kondisi itu biasa disebut air bangar atau bangai, membuat ikan-ikan mabuk dan banyak mati. Karuan saja hal itu menimbulkan keresahan di kalangan petani ikan keramba di bilangan Loa Kulu. Mereka mengalami kerugian besar lantaran banyak ikan kerambanya mati.
"Ini (bangar, Red) terjadi beberapa hari terakhir. Bagi pemilik keramba yang punya kolam, tak begitu khawatir. Karena mereka bisa memindahkan ikannya dari keramba di Mahakam ke kolam. Tapi bagi kami yang tak punya kolam, hanya bisa pasrah," ungkap Edi, pemilik keramba di Loa Kulu. (idn/sapos.co.id/02/03/2010)




