Kaltim Aman, Waspadai Perbatasan!
Dari Seminar Antisipasi Bahaya Terorisme
BONTANG. Kalimantan khususnya Kaltim merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masuk dalam wilayah aman untuk penyerangan, atau menjadi 'sarang' terorisme. Namun, daerah yang banyak dihuni perusahaan-perusahaan asing dan raksasa ini, tetap menjadi prioritas pihak keamanan untuk meningkatkan keamanan.
"Untuk saat ini Kaltim cukup aman, namun jangan lengah. Di sini banyak pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Itu bisa dijadikan tempat persembunyian teroris. Seperti Pulau Sebatik yang terdapat di wilayah Utara Kaltim, itu semua pernah menjadi tempat persembunyian teroris yang sudah dilumpuhkan di Indonesia. Karena wilayahnya berbatasan langsung dengan Malaysia, mereka bebas keluar-masuk Indonesia, melalui Tawao," sebut mantan Komandan Satgas Anti Teror Mabes Polri Brigjen Suryadharma Salim.
Itu disampaikan dalam seminar Mengantisipasi Bahaya Terorisme dan Narkoba. Selain Suryadharma Salim, yang menjadi penara sumber di seminar tersebut adalah Nasir Abas yang tak lain mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI).
Hadir dalam seminar yang diselenggarakan PT PKT Bontang tersebut, Wakil Walikota Sjahid Daroini, Manajemen PKT, Wakil Ketua DPRD, dr Sutrisnowati, Kapolres Bontang AKBP Dede Rahayu, Dandim 0908 Bontang, Letkol Inf Djaka Budi Utama serta unsur muspida lainnya.
Lebih jauh dikatakan Suryadharma Salim, dalam menangani penyebaran teroris di Indonesia, diperlukan keterlibatan semua pihak, termasuk kerjasama yang baik dari masyarakat. Sebab dari pengalaman dan pengembangan kasusnya, masyarakat sering dijadikan tempat untuk melindungi diri seorang teroris.
Dikatakannya, tak ketinggalan adanya masukan berupa informasi dari orang-orang yang pernah menjadi anggota JI seperti Nasir Abas, sangatlah penting, untuk mengungkap jaringan teroris itu sendiri. Apalagi saat ini struktur JI itu sendiri telah berubah menjadi Askari Syariah/Qoriyah Al-Jamaah Al-Islamiyah, dengan pimpinan seorang Qoryah atau disebut sebagai Kabid Sariyah (Qoid Sariyah). Ditegaskannya, aksi terorisme dewasa ini menjadi ancaman bagi masyarakat dimanapun berada. Sebab kejahatan teror merupakan kejahatan extra ordinary yang tidak mengenal waktu, dan tidak mengenal batas wilayah maupun sasarannya. Serangan teror yang telah terjadi di berbagai negara, baik di negara-negara maju misalkan penyerangan gedung WTC dan Pentagon di AS, serangan teroris di Inggris ataupun di negara berkembang lainnya.
Sehingga menggambarkan, ancaman terorisme bukan lagi hanya dapat terjadi di daerah konflik misalkan di Palestina, Irak dan Afganistan. "Dimanapun, serangan teror yang terorganisir bisa saja terjadi tanpa terduga di Asia Tenggara, Indonesia, Philipina dan Thailand juga menjadi sasaran kegiatan dan aktivitas terorisme," ujarnya.
Dari aspek waktu, serangan teror sulit diprediksi, karena para pelaku teror tidak hanya memanfaatkan even-even tertentu, yang umumnya dapat diprediksikan sebagai saat yang rawan teror. Tapi para pelaku teror justru suka memilih waktu yang sama sekali di luar dugaan para ahli sekalipun. Memutuskan jaringan terorisme ini, Indonesia telah menjalin kerjasama internasional dengan beberapa negara seperti Australia, Amerika, Belanda, Perancis, dan negara lainnya yang dimulai secara spontan pada saat penanganan kasus bom Bali I dan II.
Alhasilnya, Indonesia mampu menangkap para pelaku teror bom kelas kakap, termasuk pelaku teror dengan jumlah sekitar 200 tersangka yang diduga terlibat jaringan teror. Termasuk Azahari, Nordin M Top yang berhasil tertembak mati lalu.
Sedangkan Nasir Abas mengatakan, sejak tahun 1993 hingga 1997, dirinya hanya menjadi anggota biasa di JI sampai akhirnya memilih keluar dari anggota tersebut. Dan saat itupula dirinya mengaku tak mengetahui lagi struktur pengurusan dalam JI, hingga disebut-sebut sebagai aliran yang banyak dikait-kaitkan aksi terorisme. (im/sapos.co.id/23/04/2010)




