Pemotongan Insentif Sisakan Persoalan
SANGATTA – Pemotongan insentif guru swasta dan negeri pada 2007 lalu di Dinas Pendidikan Kutim (Disdik) Kutim masih menyisakan masalah. Pemotongan insentif itu dilakukan untuk pembayaran kredit sepeda motor. Namun, sebagaimana laporan dari sejumlah guru, kredit sudah lunas tapi pemotongan tetap dilakukan. Lama pemotongan insentif itu bervariasi. Ada yang dua bulan, tiga bulan dan sampai enam bulan.
Kepala Disdik Kutim Iman Hidayat mengungkapkan, masalah pemotongan insentif 2007 lalu itu terjadi sebelum ia menjabat sebagai kepala dinas. Tapi, masalah ini sudah ditangani tim. Pemotongan yang dianggap bermasalah itu selama 3 bulan saja.
“Kami bentuk tim untuk menanganinya,” katanya kepada Kaltim Post, Selasa (27/4) kemarin. Jika hasil pengusutan tim kami juga tidak bisa menemukan titik temu, Iman menegaskan, persoalan pemotongan insentif itu akan diserahkan ke Inspektur Wilayah (Itwil) Kutim.
Diakui Iman, ada keruwetan dalam data pemotongan insentif itu. Data di BPD Kaltim, di Disdik dan di pihak guru tidak sama. Keruwetan data inilah yang sedang ditelusuri tim. Belum lagi, jumlah guru yang dipotong insentifnya belum akurat. Nilai pemotongan itu mencapai Rp 580 juta. Akan tetapi saat ini nilainya sudah menyusut.
Penyebab ruwetnya masalah pemotongan insentif ini karena ada guru yang melunasi kreditnya lebih cepat. Semisal kreditnya sudah dilunasinya dalam 3 bulan mendatang, dan mengambil BPKB-nya. Dana inilah yang kemudian tidak terdaftar di database sehingga tetap terpotong.
Kemudian, ada juga guru yang tidak lagi menerima insentif secara penuh, karena jam mengajarnya tidak penuh. Ini akan menjadi masalah karena ia harus membayar cicilan motornya.
“Kami akan terus melakukan penyelesaian terkait masalah ini. Kita mencari data yang benar dalam masalah ini,” pungkas Iman. (dea) (www.kaltimpost.co.id 29/04/10)
Kepala Disdik Kutim Iman Hidayat mengungkapkan, masalah pemotongan insentif 2007 lalu itu terjadi sebelum ia menjabat sebagai kepala dinas. Tapi, masalah ini sudah ditangani tim. Pemotongan yang dianggap bermasalah itu selama 3 bulan saja.
“Kami bentuk tim untuk menanganinya,” katanya kepada Kaltim Post, Selasa (27/4) kemarin. Jika hasil pengusutan tim kami juga tidak bisa menemukan titik temu, Iman menegaskan, persoalan pemotongan insentif itu akan diserahkan ke Inspektur Wilayah (Itwil) Kutim.
Diakui Iman, ada keruwetan dalam data pemotongan insentif itu. Data di BPD Kaltim, di Disdik dan di pihak guru tidak sama. Keruwetan data inilah yang sedang ditelusuri tim. Belum lagi, jumlah guru yang dipotong insentifnya belum akurat. Nilai pemotongan itu mencapai Rp 580 juta. Akan tetapi saat ini nilainya sudah menyusut.
Penyebab ruwetnya masalah pemotongan insentif ini karena ada guru yang melunasi kreditnya lebih cepat. Semisal kreditnya sudah dilunasinya dalam 3 bulan mendatang, dan mengambil BPKB-nya. Dana inilah yang kemudian tidak terdaftar di database sehingga tetap terpotong.
Kemudian, ada juga guru yang tidak lagi menerima insentif secara penuh, karena jam mengajarnya tidak penuh. Ini akan menjadi masalah karena ia harus membayar cicilan motornya.
“Kami akan terus melakukan penyelesaian terkait masalah ini. Kita mencari data yang benar dalam masalah ini,” pungkas Iman. (dea) (www.kaltimpost.co.id 29/04/10)




