Kualitas Guru Payah dan Tak Disiplin
Hasil UN Jeblok, Kepsek se-Kubar dan Disdik Dipanggil Mendadak
SENDAWAR- Ada beberapa faktor yang mengakibatkan anjloknya hasil Unjian Nasional (UN) SLTA di Kutai Barat (Kubar). Di antaranya, pengaruh siswa itu sendiri dari lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Selain itu, juga akibat tenaga guru yang kualitasnya masih jauh dari harapan dan kurangnya kedisiplinan. “Faktor-faktor itulah yang harus segera dibenahi. Misalnya, saja standarisasi guru di SMA itu harus benar-benar diperhatikan. Ini kan masih ada, guru matimatika jangan dari guru IPA.
Sementara matematika SMA itu kan semakin sulit,” kata Ketua Dewan Pendidikan Kubar Agus Sopian, kepada Kaltim Post, kemarin. Diberitakan kemarin, berdasarkan data Disdik Kubar, dari 1.155 siswa peserta UN yang lulus hanya 66 orang, sisanya 1.089 siswa tidak lulus/harus mengulang.
Dengan demikian presentasi kelulusan hanya 5,72 persen, selebihnya 94,29 persen mengulang. Sedangkan peserta UN untuk SMK dari 475 orang yang lulus 422 orang, atau yang mengulang 53 orang atau presentasi 89 persen mengulang 11,16 persen.
Hasik UN Kubar yang jeblok ini menjadikan Kaltim memegang rekor tertinggi untuk provinsi yang jumlah sekolahnya yang mengalami kelulusan nol persen untuk SMA dan MA. "Ada 39 sekolah di Provinsi Kaltim yang seluruh siswanya tidak lulus, yakni berjumlah 1.158 siswa.
Sekolah-sekolah tersebut sebagian besar ada di wilayah Kutai Barat (Kubar)," terang Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh saat konferensi pers mengenai hasil UN di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Selasa (27/4).
Yang terparah adalah SMA Negeri Muara Bengkal, Kutim. Di mana pesertanya yang total berjumlah 114 siswa, seluruhnya tak lulus. Terbesar kedua adalah SMA Surya Mandala Barong Tongkok, Kubar, yang mencapai 106 siswa.
Agus Sopian yang dihubungi harian ini malam tadi mengatakan, jika memang di Kubar misalnya tidak ada guru matematika, bisa saja dicari guru khusus yang dikursuskan matematika. Upaya lainnya, tegas dia, metode pembalajaran yang dilakukan guru kepada siswanya juga harus dievaluasi kembali.
Berikutnya, integritas para guru harus lebih prokatif menguasai materi/kurikulum serta mempelajari dan membahas sal-soal UN yang lalu. “Pembahasan ini melibatkan para siswanya, sehingga bayang-bayang soal yang akan keluar di tahun berikutnya sudah siap dihadapi,” katanya.
Ditanya soal keterlibatan pemerintah, menurut Agus Sopian, sudah maksimal. Semua sarana dan prasarana pendidikan dipenuhi, bahkan pendidikan di Kubar sudah digratiskan. Termasuk juga ada guru-guru yang disekolahkan ke luar daerah.
Menyikapi jebloknya hasil UN, Wakil Bupati Kubar Didik Effendi mendadak memanggil seluruh kepala SMA/SMK/MAN dan pejabat Dinas Pendidikan (Disdik), Selasa (27/4). “Dalam pertemuan itu saya sudah tekankan kenapa sampai demikian hasilnya.
Padahal Pemkab Kubar sudah sangat besar mengalokasikan dana pendidikan di Kubar. Dan untuk menyikapinya, masih ada ujian ulangan yang dilaksanakan 10-14 Mei 2010, pihak sekolah harus berupaya semaksimal mungkin.
Karena ini ujian terakhir untuk menyelamatkan siswa yang gagal ujian tahap pertama ini,” tegas Didik Effendi kepada media ini, Rabu (28/4). Ditanya hasil pertemuan itu Didik Effendi mengungkapkan, banyak hal yang disampaikan pihak kepala sekolah.
Di antaranya, perlunya peran orangtua agar tetap mengawasi anak-anaknya terhadap dunia pendidikan. “Makanya dari hasil pertemuan itu juga saya sudah tegaskan, agar setiap 3 bulan sekali, para orangtua siswa dipanggil ke sekolah untuk diberitahukan perkembangan prestasi anaknya di sekolah,” ujarya.
Termasuk juga, para pendidik untuk mencari formulasi apa yang bisa meningkatkan prestasi anak didik, terutama menghadapi ujian nasional agar lebih mampu dan sempurna siswa menjawabnya. Jika hal itu penyebabnya materi pelajaran tentunya, harus dikaji kembali.
Demikian juga jika hal ini disebabkan ketidaksiplinan para pendidik dan siswanya sendiri, maka harus ditekankan lagi. “Pokoknya harus berbenah. Karena prestasi yang ada ini sebagai evaluasi bersama untuk memperbaikinya,” terangnya.
Ia juga meminta, prestasi pendidikan yang ada ini, tidak harus mencari kambing hitamnya. “Karena masalah pendidikan ini semuanya harus terlibat. Dari siswa itu sendiri, guru, orangtua, dan peran pemerintah,” tuturnya.
Disinggung peran Pemkab Kubar terhadap dunia pendidikan selama ini, Didik Effendi menegaskan, sudah cukup besar alokasi dana pendidikan yang diberikan. Meskipun dia, tidak bisa merincikan total dana yang diberikan. “Pokoknya sangat besar dana yang diberikan.
Jumlah nominalnya saya lupa,” katanya. Tetapi pelaksanaan di lapangannya bisa dilihat, kata dia, sejak 2006 hingga 2010 ini semua biaya pendidikan di Kubar digratiskan. Ini diberlakukan sejak anak di bangku Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, hingga SMA/SMK se-Kubar ditanggung biaya SPP dan penerimaan siswa baru (PSB).
Bantuan pendidikan gratis ini tidak saja kepada sekolah negeri, tapi termasuk juga sekolah swasta. Belum lagi, pembangunan fasilitas pendidikan juga terus ditambah dan diperhatikan. Mulai dari sarana pendidikan berupa ruang kelas, perpustakaan, dan lainnya.
Bahkan, tambah dia, para tenaga pendidik juga terus diminta lebih disiplin dalam memberikan materi. Dan di antara mereka juga ada yang di sekolahkan ke Sanatha Dharma Jogja. “Ini juga dana dari Pemkab Kubar.
Tujuannya, agar prestasi para guru lebih menguasai materi yang akan ditularkan kepada anak didiknya,” paparnya. Ditanya soal jumlah guru dengan sekolah diakuinya, masih mengalami kekurangan.
Terutama guru eksakta dan bahasa Inggris. “Untuk menambah kekurangan guru ini, kami berharap perhatian kepada pemerintah pusat,” katanya. Sementara itu, Kepala Disdik Kubar Fredrick Ellia GMA meminta, persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan.
Masalahnya hasil ujian nasional (UN) yang diumumkan Senin lalu bukan final, melainkan ada ujian ulangan. Belum lagi, nilai siswa juga akan ditambah lagi dengan ujian akhir sekolah serta prestasi lainnya yang akan dipadukan oleh para guru. “Setelah itu, baru akan diketahui lulus tidaknya siswa itu.
Jadi masih banyak hal yang bisa dilakukan,” ujar Fredrick Ellia. Disinggung soal hasil UN di Kubar yang anjlok, Fredrick Ellia mengatakan, pihaknya bersama kepala sekolah siap memperhatikan agar di ujian ulangan para siswa akan dibekali lagi materi pelajaran agar semuanya berhasil menghadapi ujian ulangan itu.
Karena ada mata pelajaran tertentu yang mereka tidak lulus, dan ini masih bisa diulangkan lagi. “Jadi tidak perlu takut, karena hasil yang diulangkan juga sah dan sama seperti pada yang pertama.
Saya juga sudah sampaikan kepada para kepala sekolah agar tidak mengkambinghitamkan siapa yang salah. Tapi ini merupakan evaluasi kita untuk berbenah terus,” tegasnya.(rud/kaltimpost.co.id/30/04/2010)




