Dokter Banyak, Penyebaran Tak Merata
Arie: Di Utara, Satu Dokter Mengcover 15 Ribu Orang
SAMARINDA- Hingga saat ini, Kaltim masih disebut kekurangan dokter. Padahal, dari data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltim, jumlah dokter di provinsi ini ada 1.542 orang, termasuk spesialis sebanyak 243 dokter. Tapi, menurut Ketua IDI Kaltim Arie Ibrahim, angka tersebut penyebarannya tidak merata. Jadi tak heran jika di beberapa kabupaten masih mengalami kekurangan tenaga dokter.
Padahal, jika mengacu pada rasio ideal, angka tersebut lebih dari cukup. “Saya pernah bertemu dokter yang betugas di hulu Mahakam, dia nggak tahan di sana karena jauh dan akses transportasinya sulit. Naik longboat bayarnya aja Rp 1 juta,” katanya di Ruang Rapat Wakil Gubernur Kaltim kemarin (20/5). Dia menjelaskan, untuk rasio kebutuhan dokter angkanya 1 berbanding 2.500 orang.
Dengan demikian, jika di Kaltim ada 3,2 juta penduduk, jumlah dokter saat ini tentu sudah cukup, yakni 1.200 orang. Sayangnya, dokter-dokter itu tertumpuk di kota-kota besar, seperti Samarinda dan Balikpapan. Di dua kota itu, rasio untuk dokter bahkan 1 berbanding 2.000. Tapi kabupaten di utara, seperti Malinau, Nunukan, dan Bulungan angkanya jomplang.
Perbandinganya satu dokter mengcover 15.000 orang. Di tempat sama, Asisten Sekprov Bidang Kesejahteraan Rakyat Sutarnyoto mengatakan, memang rasio jumlah dokter dengan warga tak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menyebut apakah saat ini jumlah dokter sudah cukup atau masih kurang.
Karena, berdasarkan kondisi geografis di beberapa kawasan, ada satu kecamatan yang jumlahnya tak sampai 1.000 orang, dan lokasinya berjauhan dengan kecamatan yang lain. Sehingga perhitungan rasio ini tak sepenuhnya bisa digunakan. Karena itu, untuk pemerataan kebutuhan dokter, saat ini pihaknya telah merealisasikan program Puskesmas 24 jam yang minimal diisi 2 dokter.
Selain itu, ada juga program beasiswa untuk memenuhi kebutuhan dokter di tiap kabupaten. Saat ini, pihaknya sudah memberikan beasiswa full kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran yang sudah duduk di semester akhir. Untuk mendapatkan beasiswa itu, mereka diikat dengan perjanjian harus kembali ke daerah asal usai studi.
Selain itu, ada juga program pusat yang tiap tahunnya mengirim dokter ke kawasan terpencil. Di Kaltim dapat jatah 120 dokter per tahun yang bertugas dengan sistem kontrak. “Untuk insentifnya aja dokter yang dikirim ke kawasan terpencil itu bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per bulan,” katanya. Selain itu, pemerintah kabupaten juga sudah banyak yang memiliki program kerja sama untuk pengadaan dokter dengan beberapa universitas di luar Kaltim.
“Bahkan di salahsatu kabupatan di utara, ada pemerintah dan pihak perusahaan berani membayar ongkos pendidikan seorang dokter selama dia kuliah, asal mau bertugas di kabupaten itu,” kata mantan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim itu. Di samping itu tentu secara reguler tetap ada penambahan jumlah dokter jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (Unmul) yang tiap tahunya menelurkan 50 orang.
Dia menyebutkan, untuk memenuhi kebutuhah dokter di beberapa daerah, pihaknya tengah melakukan inventarisasi angka tersebut. Pihak kabupaten/kota harus membuat pendataan berapa angka yang dibutuhkan. Tak hanya dokter umum, tapi juga spesialis. Setidaknya, kata dia, empat dokter spesialis harus terpenuhi di tiap kabupaten. Yakni, spesialis anak, penyakit dalam, bedah umum, dan obgyn (kandungan).(far/metrobalikpapan.co.id/24/05/2010)




