Tenaga Perawat Menumpuk di Perkotaan
PPNI Berharap UU Keperawatan Segera Disahkan
BALIKPAPAN--Belum adanya undang- undang (UU) Keperawatan, membuat para pelaku profesi ini bekerja di bawah dilema. Karena itulah, sekarang sedang menjadi agenda perjuangan segenap pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Hal ini disampaikan oleh para pengurus PPNI di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan pada Jumat (21/5) disela persiapan Musyawarah Nasional (Munas) PPNI ke-8. Harif Fadilah SKp SH selaku Sekretaris I pengurus pusat PPNI menyatakan kini draft rancangan undang- undang tersebut sudah selesai dibahas bersama Komisi IX DPR RI. “Kalau undang-undangnya sendiri mungkin tinggal menunggu pengesahannya saja.
Karena kemarin sudah dibahas bersama DPR RI,” ucapnya. Selanjutnya, ia berharap dengan adanya undang-undang ini nantinya profesi perawat tidak lagi dipandang sebelah mata.
Karena diakui oleh Harif, perawat saat ini dipandang sebagai profesi yang kesekian setelah dokter, dokter gigi, bidan, dan profesi kesehatan lainnya. “Padahal kalau mau tahu, saat ini sudah ada program strata 3 untuk keperawatan,” tegas Harif yang juga Ketua Steering Committee Munas yang rencananya berlangsung 28 sampai 30 Mei mendatang di Balikpapan.
Sementara itu, Ketua PPNI Kaltim Edyar Miharja menambahkan ada masalah yang tak kalah penting dari pada sebuah perlindungan dengan menggunakan undang-undang. Yakni masalah penyebaran tenaga perawat yang tidak merata.
Menurutnya pemerintah juga harus bisa melihat masalah ini sebagai masalah yang penting. “Regulator untuk penempatan perawat sepenuhnya ada di tangan pemerintah, Tapi nyatanya tidak semua daerah memiliki tenaga perawat yang mencapai angka ideal,” tambah Edyar.
Kepada sejumlah wartawan, Edyar menyebut 58 perawat banding 100 ribu penduduk sudah merupakan angka ideal. Namun sayangnya dengan jumlah tersebut penyebaran untuk daerah terpencil masih menjadi kendala, dimana perawat masih di perkotaan.
Berkumpulnya perawat di perkotaan, ditambah keluaran perawat yang bisa dibilang berlebih, membuat gaji perawat turun. “Perawat mengalami inflasi, penurunan nilai karena jumlahnya banyak,” terang Edyar.
MUNAS DI BALIKPAPAN
Munas PPNI Ke-8 yang berlangsung selama tiga hari mendatang digelar di Balikpapan. rencananya acara ini akan dihadiri 1.500 peserta dari seluruh Indonesia. Munas ini dibuka di Istana Merdeka pada 25 Mei mendatang.
Menteri Kesehatan juga direcanakan hadir dalam pembukaan itu. Selain itu hadir pula Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Margiono. “Kami memerlukan pandangan dari media, bagaimana kedudukan perawat di mata pers saat ini,” jelas Ketua Panitia Munas Muslimin yang juga ketua PPNI Balikpapan.
Pada Munas ke-7 di Manado empat tahun lalu, Kaltim ditunjuk sebagai tuan rumah munas berikutnya. “Khusus isu-isu strategis, akan dibahas dalam munas, di mana ada satu komisi yang diusulkan. Agenda lainnya, pergantian kepengurusan,” tutup Muslimin.(bm-9/metrobalikpapan.co.id/24/05/2010)




