Gubernur Minta Patung Lembuswana Berdiri
TENGGARONG. Patung Lembuswana "duduk" di Pulau Kumala, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), rupanya terus menjadi perhatian Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Awang Faroek Ishak. Pasalnya, Awang Faroek berulangkali meminta supaya Lembuswana duduk itu supaya berdiri.
"Lembuswana itu merupakan lambang pakem budaya Kutai. Asli bentuknya adalah berdiri, bukan duduk atau lainnya. Jadi paling tidak di tahun ini juga, patung di Pulau Kumala itu harus segera dibuat berdiri," kata Awang Faroek, ketika menyampaikan pidatonya setelah mengambil sumpah dan melantik Rita Widyasari dan Ghufron Yusuf sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kukar, Rabu (30/6) lalu.
Seperti diketahui, ketika mengambil sumpah dan melantik Sulaiman Gafur sebagai Penjabat (Pj) Bupati Kukar, 30 November 2009 lalu, Awang Faroek juga memerintahkan Pemkab Kukar "mendirikan" patung Lembuswana duduk di Pulau Kumala itu.
"Pesan sultan (Sultan Salehoeddin II, Red) patung Lembuswana di Pulau Kumala itu supaya segera didirikan. Mungkin itu (Lembuswana duduk, Red) termasuk penyebab Kukar seperti selama ini, banyak terjadi macam-macam. Makanya saya minta di 2010, patung itu harus berdiri. Supaya Kukar dapat berubah," ujar Gubernur Awang Faroek, ketika itu.
Berbekal perintah gubernur itulah Sulaiman Gafur lalu mengakomudir biaya mendirikan patung lambang Kutai ini, masuk di APBD Kukar 2010 sebesar Rp8 miliar. Menyikapi itu, kalangan wakil rakyat di DPRD Kukar sempat menyarankan supaya anggarannya dikurang menjadi Rp4 miliar. Tak hanya itu, Komisi III DPRD Kukar sempat meminta patung dari tembaga itu tidak dihancurkan.
"Patung itu kan karya seni dan harga pembangunannya dulu sangat mahal. Jadi sebaiknya jangan dihancurkan. Tapi ganti saja namanya, jadi bukan lagi Patung Lembuswana. Patung itu bisa dijadikan simbol objek wisata Pulau Kumala," kata juru bicara Komisi III DPRD Kukar, Salehuddin, saat paripurna DPRD Kukar, 24 Mei 2010 lalu.
Sekadar informasi, biaya dikeluarkan Pemkab Kukar untuk pembangunan patung Lembuswana duduk itu dulu mencapai Rp37 miliar. Hanya saja, patung raksasa berbahan tembaga buatan senimal asal Bali, Nyoman Nuarta, dalam posisi duduk. Kondisinya tampil beda dengan patung Lembuswana kebanyakan dan mengundang protes kalangan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.(idn/sapos.co.id/05/07/2010)




