Gubernur Minta Insentif Diselesaikan Secepatnya
Hanya Samarinda yang Tersendat
SAMARINDA – Penyaluran insentif guru di Samarinda yang ditengarai tersendat, membuat Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak turut angkat suara. Pasalnya, sebagian dana yang mampet penyalurannya ini berasal dari Pemprov Kaltim. Menurut Gubernur, di kabupaten kota lain belum ada laporan pencairan insentif guru yang macet.
“Baru Samarinda yang saya dengar. Saya sudah minta Dinas Pendidikan Kaltim membantu menyelesaikan hal ini secepatnya, dengan sebaik-baiknya,” terang Faroek, saat ditemui, kemarin.
Disebutkan, tidak ada masalah tersistem dalam penyaluran insentif ini, mengingat, semua 14 kabupaten kota di Kaltim sudah memiliki kesepahaman. “Ada MoU (memorandum of understanding, Red) antara pemerintah dan DPRD kabupaten kota dengan Gubernur. Kesepahaman itu ditandatangani di hadapan Menteri,” terangnya.
Kondisinya sekarang, kata Gubernur, di 13 kabupaten kota (selain Samarinda), tidak ada masalah dan terlaksana. “Setahu saya, Samarinda saja yang ribut-ribut,” tutur dia.
Berbicara pengawasan, Faroek berpendapat, sudah baik. Dalam pengucuran insentif, ada banyak pihak yang mengawasi, misalnya Disdik dan dewan pendidikan di provinsi maupun kabupaten kota. Ditambah lagi komite sekolah di setiap sekolah.
“Dewan pendidikan bisa mengecek di provinsi apakah dana (insentif) sudah turun ke kabupaten kota. Lalu dewan pendidikan di kabupaten kota bisa mengecek apakah sudah turun ke sekolah,” urai Faroek.
Dia menyayangkan, jika insentif guru benar-benar tersendat. Dikatakan, program ini bermula ketika dia berinisiatif memberikan inisiatif kepada guru minimal sebesar Rp 1 juta per orang. “Pemprov membantu supaya insentifnya minimal satu juta. Bahkan di daerah perbatasan dan pedalaman, insentif ini bisa lebih besar lagi,” sebut Faroek.
Sebelumnya, menanggapi mencuatnya dugaan insentif yang macet, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menilai, tak ada masalah dalam pencairan. “Hanya soal administrasi, kalau semua sudah terpenuhi, tinggal lanjut saja (pencairan),” katanya. “Saya sudah rapatkan dengan Disdik Samarinda,” tuturnya.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Samarinda Suwardi menyebut, sudah memperjuangkan insentif yang tersendat.“Tiap hari saya konsultasi dengan Kadisdik (Harimurti, Red.), beliau meminta semua sabar. Tinggal menunggu waktu saja, pembayaran insentif itu,” katanya beberapa waktu lalu.
Namun sumber-sumber yang pertama kali mengungkap dugaan tersendatnya insentif ini mengatakan, “Suara Ketua PGRI adalah suaranya Kadisdik Samarinda. Bukan suara guru.” Para guru ini menyayangkan sikap Kadisdik yang dinilai sulit betul mengatakan yang sejujurnya? Biar polemik ini tak berkepanjangan, dan biar Kadisdik tak capek-capek cari alasan. Jadi, jujur sajalah,” tutur sumber itu.
Ketika permasalahan ini mulai mencuat di media, tiga triwulan insentif guru belum dibayarkan untuk 2010. Berselang beberapa saat, insentif triwulan ketiga disalurkan pada Senin (28/3). Pencairan ini menuai kejanggalan perwakilan guru yang menyambangi Kantor Kaltim Post Samarinda, Senin (28/3). Saat itu, para guru mempertanyakan mengapa triwulan kedua belum dibayar, justru langsung triwulan ketiga.
Kembali mengingatkan, insentif guru dari Pemprov Kaltim untuk Pemkot Samarinda, sudah dicairkan untuk 2009 dan 2010. Rinciannya, pada 2009 sebesar Rp 20.322.000.000 dan 2010 Rp 40.644.000.000. Sejak 2009, guru mendapat insentif per bulan Rp 1 juta; dari Pemkot Rp 700 ribu (pembayarannya dipisah Rp 500 ribu dan Rp 200 ribu), sedangkan dari Pemprov Rp 300 ribu. Insentif ini dibayarkan per triwulan.
Insentif yang dikeluhkan guru adalah dua triwulan (3 dan 4). Terdapat Rp 200 ribu dari Pemkot untuk 2009 yang belum cair. Sedangkan untuk 2010, pada triwulan kedua dan keempat, insentif Pemkot sebesar Rp 200 ribu dan dari Pemprov Rp 300 ribu yang belum cair. Sementara insentif Rp 500 ribu dari Pemkot tidak disoal karena selama ini mengalir lancar. (fel/sapos.co.id/04/04/2011)




