Faroek Ingin “Laskar Pelangi” di Kaltim
Kutukan Kudungga Laris Manis
SAMARINDA – Pertunjukan teater yang mengangkat warna dan isu-isu mutakhir di Kaltim, Kutukan Kudungga, Raja Salah Raja Disembah, berhasil menyedot perhatian banyak kalangan di Jakarta dan beberapa kota berdekatan, selain dari Kaltim. Tiketnya sudah sulit diperoleh, sejak beberapa hari lalu, padahal pementasannya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta baru dilangsungkan besok (23/9) dan lusa (24/9).
“Untuk hari pertama tiketnya sudah habis, yang hari kedua tinggal sedikit,” kata Butet Kartaredjasa, seniman yang mengarsiteki pertunjukan itu. Panitia menyediakan 800 tiket untuk satu kali pertunjukan.
Tak kurang dari Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menyatakan hadir. “Insyaallah saya datang tanggal 23 September malam di TIM,” katanya, kemarin (21/9).
Seperti diberitakan, Kutukan Kudungga adalah rangkaian kelima serial Indonesia Kita yang digagas Butet dan kawan-kawan, setelah Laskar Dagelan, Beta Maluku, Kartolo Mbalelo, dan Mak Jogi.
Bila Laskar Dagelan dan Kartolo Mbalelo mengambil setting budaya Jawa (Jogjakarta dan Surabaya), Beta Maluku mengangkat tema Maluku, serta Mak Jogi yang sangat Melayu, maka Kutukan Kudungga akan tampil dalam warna dan tema Kaltim. Baik dalam pilihan-pilihan khasanah kesenian, maupun isu-isu aktual.
“Saya sangat mendukung pergelaran seperti kerja sama dengan Butet ini,” katanya.
Menyikapi besarnya minat terhadap Kutukan Kudungga Butet dan kawan-kawan mempertimbangkan pertunjukan ekstra, seperti yang sebelum ini terjadi pada Kartolo Mbalelo dan Laskar Dagelan yang menyedot peminat teater di Ibukota.
Pada Beta Maluku, penyelenggara ‘terpaksa’ memasang layar di luar gedung Graha Bhakti Budaya TIM, menampilkan pertunjukan di dalam gedung, demi mengakomodasi para penonton yang tak tertampung pada dua hari pertunjukan. Umumnya mereka adalah warga Maluku di Jakarta.
Dalam pertemuan dengan tim kreatif Kutukan Kudungga di Samarinda beberapa waktu lalu Awang Faroek bahkan menyatakan harapan, agar pertunjukan serupa digelar pula pada ulang tahun Kaltim Januari tahun depan.
“Saya berharap kita aktif mengangkat cerita-cerita dari daerah yang pasti tidak kalah dengan yang akan digelar di Jakarta,” ujar Awang.
Tidak berhenti di situ, Gubernur pun ingin ada film yang dibuat dengan setting dan nuansa Kaltim. “Saya mendorong pembuatan film yang sama mutunya dengan Laskar Pelangi. Banyak isu menarik yang bisa diangkat. Saya berharap ada kabupaten/kota atau pengusaha atau BUMN yang tertarik,” jelasnya.
Apalagi, katanya, tahun ini Kaltim pun jadi tuan rumah Festival Film Indonesia (FFI). “Harapan saya itu menggugah para seniman/budayawan Kaltim,” ujar Faroek.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kaltim, Musyahrim mengatakan, pihaknya mendukung penuh pertunjukan yang akan mengangkat nama Kaltim di pentas nasional tersebut. Dari pertunjukan Indonesia Kita edisi-edisi sebelumnya, antusiasme penonton maupun media nasional sangat tinggi.
“Disdik mendukung, baik persiapan penari maupun pengirimannya,” kata Musyahrim. Kaltim mengirim 25 penari, sementara dari Kutai Timur ada kelompok musik Kapital yang akan berkolaborasi dengan sejawat mereka dari Tenggarong, Samarinda, Jakarta dan Jogja, seperti Dik Doank dan anak-anak Kandak Jurank Doank, komedian Marwoto, Susilo Nugroho dan Teater Gandrik.
Dukungan terhadap Kutukan Kudungga juga datang dari Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, dan sejumlah pemerintah kabupaten seperti Bulungan dan Berau. Dukungan kabupaten-kabupaten ini tampil dalam keikutsertaan pada pameran kuliner, yang dimobilisasi oleh Dinas Pariwisata Kaltim.
Memang, tidak hanya mata dan jiwa, lidah dan perut pun ‘menjadi Kaltim’ pada rangkaian kegiatan itu nanti. Pementasan dimulai pukul 20.00 WIB, dan beberapa jam sebelum itu, di beberapa tempat di pelataran TIM juga dijaja aneka makanan khas Kaltim.
Rangkaian kegiatan ini juga dikelola oleh tim kreatif yang terdiri dari, selain Butet, Agus Noor, Djaduk Ferianto, dan Syafril Teha Noer. (wan/far/kaltimpost.co.id/22/09/2011)




