Proyek Kaltim Diminati Investor USA
Berharap Dikompensasi Batu Bara
SAMARINDA. Beberapa proyek besar di Kaltim terus diminati investor dari luar, tidak hanya Indonesia, tetapi juga luar negeri. Kali ini adalah Global First Financial Partners Inc, asal New Jersey USA yang berminat dengan proyek pembangunan Jembatan Pulau Balang, free way, Pelabuhan Maloy, termasuk rencana perluasan Bandara Sepinggan Balikpapan.
SAMARINDA. Beberapa proyek besar di Kaltim terus diminati investor dari luar, tidak hanya Indonesia, tetapi juga luar negeri. Kali ini adalah Global First Financial Partners Inc, asal New Jersey USA yang berminat dengan proyek pembangunan Jembatan Pulau Balang, free way, Pelabuhan Maloy, termasuk rencana perluasan Bandara Sepinggan Balikpapan.
Hadir dalam presentasi yang digelar di ruang rapat Wakil Gubernur Kaltim itu adalah Asisten II Setprov Kaltim M Sya'bani, Kepala Bappeda Rusmadi, Pj Bupati Kukar Sulaiman Gafur, Wawali Balikpapan Rizal Effendi, sementara dari Global First Financial Partners Inc langsung dihadiri President Fernando M Sopot.
"Mereka ingin tahu proyek-proyek apa saja yang saat ini dibangun di Kaltim, makanya kita presentasikan kepada mereka, sehingga nantinya dilanjutkan di internal mereka. Makanya sampai saat ini kita belum tahu, apakah mereka berminat dengan proyek yang sedang kita lakukan. Kalaupun berminat, dengan proyek yang mana," ujar Sya'bani usai presentasi, kemarin.
Ditanya kapan kepastian soal proyek mana yang akan diminati, menurutnya belum bisa diketahui, karena masih ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, sebelum benar-benar dipilihnya untuk menginvestasikan dananya. "Belumlah, kan mereka masih harus berkoordinasi dengan kantor pusat dan mempelajari proyek yang saat ini tengah kita lakukan. Tapi, tentu saja kita berharap segera ada jawaban yang diberikan," tandasnya lagi.
Sementara President Fernando M Sopot mengatakan bahwa pihaknya masih harus membawa hasil presentasi proyek itu ke negara mereka dulu. Setelah itu, barulah akan diputuskan proyek mana yang akan mereka ambil untuk bekerjasama. "Kami jelas akan mengajukan proposal untuk kerjasamanya dulu, setelah ditentukan proyek mana yang akan dikerjasamakan," ujarnya.
Sementara soal kompensasi dari dana yang diinfestasikan di Kaltim. Fernando mengaku belum tahu, masih akan dibicarakan lebih lanjut. Tetapi ia mencontohkan beberapa proyek yang saat ini dikerjakan pihaknya, misalnya di China yang melakukan pembayarannya dengan emas, sementara di Venuezela dengan minyak, untuk proyek di Kaltim bisa saja dibayar dengan batu bara. Itu pun kaerna pertimbangan bahwa sumber daya alam di Kaltim, terutama pada sektor tambangnya sangatlah besar.
"Itu bisa saja dilakukan, tergantung bagaimana sistem kerjasamanya. Tapi kita lihat saja nanti ya," tuturnya lagi.
Sementara Kepala Dishub Kaltim Zairin Zain mengakui, ada beberapa kendala yang dialami pihaknya ketika ingin mencari investor yang akan menginvestasikan modalnya di Kaltim. Itu terkait aturan secara nasional, bahwa bila ada perusahaan asing yang ingin menginvestasikan dananya di Kaltim harus terlebih dahulu melalui prosedur lintas negara atau Government to Government (G to G/sapos.co.id/12/10/2010).
"Memang ini masalah serius yang selama ini kita hadapi, belum lagi aturan harus melakukan lelang dalam setiap tender atau proyek yang dikerjakan. Jadi, misalnya ada investor yang berminat dan telah membuat proposal, tetapi pada kenyataannya pada pengerjaannya belum tentu mereka yang lakukan, masih tergantung hasil tender," ungkapnya lagi. Makanya, salah satu saran yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan melakukan pendampingan terhadap perusahaan asing yang ingin menginvestasikan modalnya di Kaltim. (ias)










