Dengan Jalur Darat Datangi 6 Kabupaten dan 2 Kota
Saat Gubernur Kaltim Keliling Utara Hingga Perbatasan (1)
AWAL Maret 2010, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengawali program kerjanya dengan datang dan meninjau semua aspek pembangunan yang ada di tujuh kabupaten. Dengan menggunakan transportasi darat terjadwal mulai kemarin hingga (7/3).
SELAMA ini Kaltim memang dikenal sebagai daerah dengan kualitas infrastruktur yang tidak terlalu bagus. Terlebih untuk akses jalan darat yang bisa dengan mudah ditemui dalam kondisi berlubang bahkan terputus longsor, licin dan berbahaya pada saat hujan, kotor berdebu karena baru sebatas agregat dan lain sebagainya.
Namun dengan untuk tujuan untuk melakukan pantauan langsung, gubernur pun memilih untuk menempuh jalan darat saat melakukan kunjungan kerja ke Bontang, Kutim, Berau, Bulungan, Tana Tidung, Malinau, perbatasan utara Kaltim, Nunukan, dan Tarakan. Tentu saja hal ini terlepas dari hadirnya mobil Land Cruiser teranyar yang baru saja dibeli untuk gubernur dan wakilnya.
"Dalam kunjungan ini, memang sudah disusun jadwal kegiatan secara maraton. Dan dari satu lokasi ke lokasi yang lain memang lebih efektif ditempuh dengan jalan darat," tutur H Ibnul Yatim Kabag Kehumasan Biro Humas Sekretaris Daerah Provinsi (Setda Prov) Kaltim beberapa hari sebelum kegiatan ini berlangsung.
Meski demikian, perjalanan yang dilakukan untuk mengelilingi utara Kaltim ini tetap membutuhkan transportasi air dengan menggunakan perahu cepat (Speedboat) dan pesawat terbang pada saat kepulangan.
Secara teknis, rombongan gubernur dalam kunjungan kerja ini terkumpul dalam 107 unit mobil kabin ganda yang sebagian besar merupakan mobil sewaan (rental). Dengan berkonvoi dan dipandu dua unit pasukan pengawal dari Samarinda (belum ditambah pengawal dari kota dan kabupaten yang dikunjungi). Rombongan pun mulai berangkat sejak pukul 7.30 Wita dengan sempat menyebabkan kemacetan di beberapa ruas jalan utama kota.
Kawasan peternakan sapi yang dikelola oleh Kelompok Tani Ternak Obor Simpati yang ada di Desa Sebuntal, Kecamatan Marang Kayu menjadi tujuan pertama.
Tidak hanya melakukan temu komunikasi dengan peternak, ada banyak hal yang kembali disampaikan, seperti pemekaran wilayah sampai penegasan kepada perusahaan besar di daerah untuk terbuka mengenai angka anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) dan Community Development (Comdev)) atau pembangunan masyarakat. Bahkan gubernur sempat menegur salah satu perwakilan perusahaan gas besar yang ada di Marang Kayu, karena tidak bisa menyebutkan angka tepat untuk CSR 2010.
"Pokoknya mulai 2010, semua perusahaan besar yang beroperasi harus bisa memberikan angka yang jelas untuk CSR. Dan keberadaan perusahaab harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sebaliknya," tegas Awang Faroek.
Kunjungan dilanjutkan ke Bontang untuk meninjau progres pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) yang lokasinya bersebelahan dengan Lembaga Pemasyarakatan (LP) pertama di Bontang yang juga masih dalam pembangunan.
Di Bontang aktivitas berlanjut dengan rapat kerja gubernur dengan jajaran pemerintahan kota Bontang dan penyerahan bantuan.
Kunjungan hari pertama diakhiri setelah gubernur tiba di Sangatta untuk meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kutim, Sekolah Tinggi Pertanian Sangatta, stadion dan Sport Hall Kutim, dan rapat kerja dengan jajaran pemerintah. (Dragono Halim/bersambung/sapos.co.id/02/03/2010)




