Dokter Specialis masih Enggan Bertugas di Babel
PANGKALPINANG--MI: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung Hendra Kusuma Jaya mengatakan, dokter spesialis dari luar daerah masih enggan bertugas di Babel karena insentif yang diberikan dinilai kecil.
"Babel masih kekurangan dokter spesialis, namun untuk mendatangkan dokter dari luar daerah sangat sulit karena insentif dianggap kecil," katanya di Pangkalpinang, Minggu (14/3).
"Babel masih kekurangan dokter spesialis, namun untuk mendatangkan dokter dari luar daerah sangat sulit karena insentif dianggap kecil," katanya di Pangkalpinang, Minggu (14/3).
Menurut dia pemerintah daerah terus berupaya mendatangkan dokter spesialis dari luar daerah, namun peminatnya sangat kecil karena insentifnya kecil.
"Dokter spesialis itu memiliki banyak pertimbangan untuk bertugas di Babel, di antaranya insentif, rumah sakit swasta atau klinik tempat praktik di luar, ini jelas menjadi pertimbangan mereka sebagai penghasilan tambahan, sementara Babel belum bisa memenuhi itu," ujarnya.
Dokter spesialis itu, kata dia, jelas membandingkan pendapatannya sebelum pindah tugas dan lebih memilih daerah perkotaan yang memiliki banyak tempat praktik swasta.
"Sementara Babel membutuhkan dokter spesialis yang bertugas di daerah kabupaten, terutama daerah pemekaran yang masih minim rumah sakit dan klinik swasta," ujarnya.
Ia mencontohkan dokter spesialis yang bertugas di Pangkalpinang enggan bertugas di kabupaten karena di kota memiliki banyak rumah sakit swasta dan klinik tempat praktik untuk menambah pendapatannya disamping gaji dari rumah sakit umum daerah (RSUD).
"Sebenarnya pemerintah kabupaten sudah menaikkan insentif bagi dokter spesialis, seperti Kabupaten Belitung Timur sudah menganggarkan Rp17,5 juta untuk insentif, dokter spesialis namun tetap saja tidak ada peminatnya," ujarnya.
Menurut dia minimal dibutuhkan lima dokter spesialis yang bertugas di RSUD, dan satu dokter untuk masing-masing puskesmas.
"Namun minat dokter spesialis dari luar daerah untuk bertugas di Babel sangat rendah karena mereka mempertimbangkan pendapatan, walaupun sudah ditawarkan insentif puluhan juta rupiah tetap saja tidak diminati," ujarnya.
Berdasarkan data dari Dinkes Babel, jumlah dokter spesialis hingga April 2009 sebanyak 41 orang, dokter umum 232 orang.
"Pemerintah daerah memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang kuliah di bidang kesehatan dengan harapan setelah tamat nanti bisa mengabdi di kampung halamannya untuk menjawab kekurangan tenaga kesehatan di daerah ini," ujarnya.
Namun program beasiswa bagi mahasiswa bidang kesehatan itu untuk jangka waktu panjang, sementara Babel sekarang membutuhkan tenaga kesehatan dan dokter dan dokter spesialis cukup banyak untuk memberikan pelayanan medis secara optimal.
"Kami tidak bisa memastikan berapa kebutuhan riil tenaga kesehatan dan dokter spesialis di Babel, namun yang pasti provinsi ini masih kekurangan tenaga medis," ujarnya. (Ant/OL-02/mediaindonesia.com/15/03/2010)
"Dokter spesialis itu memiliki banyak pertimbangan untuk bertugas di Babel, di antaranya insentif, rumah sakit swasta atau klinik tempat praktik di luar, ini jelas menjadi pertimbangan mereka sebagai penghasilan tambahan, sementara Babel belum bisa memenuhi itu," ujarnya.
Dokter spesialis itu, kata dia, jelas membandingkan pendapatannya sebelum pindah tugas dan lebih memilih daerah perkotaan yang memiliki banyak tempat praktik swasta.
"Sementara Babel membutuhkan dokter spesialis yang bertugas di daerah kabupaten, terutama daerah pemekaran yang masih minim rumah sakit dan klinik swasta," ujarnya.
Ia mencontohkan dokter spesialis yang bertugas di Pangkalpinang enggan bertugas di kabupaten karena di kota memiliki banyak rumah sakit swasta dan klinik tempat praktik untuk menambah pendapatannya disamping gaji dari rumah sakit umum daerah (RSUD).
"Sebenarnya pemerintah kabupaten sudah menaikkan insentif bagi dokter spesialis, seperti Kabupaten Belitung Timur sudah menganggarkan Rp17,5 juta untuk insentif, dokter spesialis namun tetap saja tidak ada peminatnya," ujarnya.
Menurut dia minimal dibutuhkan lima dokter spesialis yang bertugas di RSUD, dan satu dokter untuk masing-masing puskesmas.
"Namun minat dokter spesialis dari luar daerah untuk bertugas di Babel sangat rendah karena mereka mempertimbangkan pendapatan, walaupun sudah ditawarkan insentif puluhan juta rupiah tetap saja tidak diminati," ujarnya.
Berdasarkan data dari Dinkes Babel, jumlah dokter spesialis hingga April 2009 sebanyak 41 orang, dokter umum 232 orang.
"Pemerintah daerah memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang kuliah di bidang kesehatan dengan harapan setelah tamat nanti bisa mengabdi di kampung halamannya untuk menjawab kekurangan tenaga kesehatan di daerah ini," ujarnya.
Namun program beasiswa bagi mahasiswa bidang kesehatan itu untuk jangka waktu panjang, sementara Babel sekarang membutuhkan tenaga kesehatan dan dokter dan dokter spesialis cukup banyak untuk memberikan pelayanan medis secara optimal.
"Kami tidak bisa memastikan berapa kebutuhan riil tenaga kesehatan dan dokter spesialis di Babel, namun yang pasti provinsi ini masih kekurangan tenaga medis," ujarnya. (Ant/OL-02/mediaindonesia.com/15/03/2010)




