30 Ribu Sarjana Universitas Mulawarman Menganggur
SAMARINDA--MI: Gubernur Kalimantan Timur mengatakan ada sekitar 30.000 sarjana lulusan Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda menjadi pengangguran karena tidak terserap di pasar kerja.
"Jika ada yang membantah silahkan, tapi saya punya datanya. Di antaranya adalah saat penerimaan CPNS setiap tahun yang pesertanya
kebanyakan dari lulusan Unmul," kata Awang Faroek Ishak di Samarinda, Sabtu (8/5).
Pernyataan itu disampaikan gubernur saat memberikan ceramah pada acara diskusi publik membedah hasil Ujian Nasional 2010 di Hotel Borneo Samarinda yang digelar Dinas Pendidikan Kaltim bekerja sama dengan Dewan Pendidikan Kaltim.
Menurut gubernur, saat penerimaan CPNS di Kaltim, memang bukan melulu diikuti oleh peserta lulusan Unmul namun ada sejumlah lulusan dari perguruan tinggi lain yang juga tidak lulus tes CPNS akan tetapi peserta terbanyak adalah dari Unmul.
Setelah mereka tidak diterima menjadi PNS, lanjutnya, maka kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran. Ini terjadi karena Unmul tidak membuka program kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja di Kaltim.
Ia menyebutkan, hingga kini sejumlah perusahaan besar yang bergerak di Kaltim sangat membutuhkan sarjana-sarjana handal seperti tenik kimia, industri dan lainnya. Namun kebutuhan tenaga kerja itu ternyata belum dimiliki oleh Unmul, sehingga perusahaan tersebut mau tidak mau harus mengambil sarjana-sarjana dari luar Kaltim.
Saat ini Kaltim sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat sebagai dua klaster industri yakni industri pertanian oleochemical dan klaster industri migas kondensat. Kedua klaster industri itu tentu saja akan menyerap tenaga kerja cukup banyak, apalagi yang menetapkan adalah pemerintah pusat, sehingga berbagai upaya, termasuk pendanaan juga akan dibantu oleh pusat.
Untuk itu Rektor Unmul harus bersinergi dengan program yang dicanangkan oleh Pemprov Kaltim. Tujuannya adalah jurusan atau program keahlian yang dibuka Unmul berkorelasi dengan kebutuhan kerja yang dicanangkan Pemprov, kata gubernur.(Ant/rn/OL-1/mediaindonesia.com/10/05/2010)




