Gaji Rektor Rp 10 Juta, Dapat Rumah Dinas
ADA 37 nama akademisi yang mengembalikan formulir kesediaan menjadi bakal calon Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Meski, kata Ketua Panitia Pemilihan Rektor (Pilrek) Unmul DB Paranoan, belum diketahui apakah semua yang mengembalikan bersedia atau tidak ikut pemilihan. Tapi, periode ini dia sebut yang paling banyak pesertanya.
Lantas mengapa banyak tenaga pengajar yang sudah memenuhi syarat sesuai Permendiknas Nomor 67 Tahun 2008, ingin menjadi orang nomor satu di Unmul? Selain prestise, apa ada faktor lain? Untuk mengetahui itu, Kaltim Post bincang singkat dengan Rektor Unmul Ariffien Bratawinata dan DB Paranoan secara terpisah kemarin siang (16/4). Menurut Ariffien, menjadi rektor adalah prestise.
Karena, posisi itu adalah puncak karier bagi dosen di tiap universitas. Tapi baginya, yang paling penting adalah panggilan untuk mengabdi dan mengembangkan satu-satunya universitas negeri di Kaltim itu. “Jadi rektor dan guru besar itu adalah perstise,” ujarnya. Sedangkan untuk fasilitas dan tunjangan yang diterima, akunya, tak seberapa.
Saat ini, sebagai rektor dia dapat rumah dinas di kompleks kampus Unmul Gunung Kelua. Dia juga mendapatkan mobil dinas Toyota Corolla Altis dengan nomor polisi KT 10. Untuk gaji dan tunjangan, kata dia, angkanya sama dengan pejabat golongan IV E. “Saya tak terlalu paham berapa besar gaji dan tunjangan saya, karena tiap bulan yang ambil istri saya di situ,” katanya, seraya menunjuk salasatu ruangan di lantai II Gedung Rektorat.
Tapi, berdasarkan pengetahuannya, untuk tunjangan yang dia dapat per bulan Rp 4,7 juta. “Kalau total semua ya sekitar Rp 10 jutaan. Itu kasarnya lah,” katanya. “Kalau mau kaya jangan jadi rektor, jadi pengusaha aja,” lanjutnya. Lebih jauh dia menyebutkan, untuk semua fasilitas yang diterima, cukup atau tidak tentu kembali ke individu masing-masing.
Baginya, apa yang dia peroleh saat ini sudah cukup dan tinggal bersyukur kepada Allah. Sayangnya, ketika disinggung apakah banyaknya akademisi yang maju sebagai rektor ini karena prestise atau fasilitas yang menggiurkan, dia tak menjawab gamblang. Dia hanya mengatakan, “Jadi rektor ini adalah pengabdian,”. Terpisah, Paranoan mengatakan, menjadi rektor adalah sebuah panggilan untuk pengabdian kepada universitas, untuk semakin memajukan dan meningkatkan kualitas.
Baginya, rektor adalah jabatan yang biasa dan tidak terlalu prestisius. Karena, akademisi setelah purna dari jabatan rektor, akan kembali menjadi dosen biasa dan guru besar. “Jabatan rektor bukan prestisius. Bagi saya ini lebih seperti jabatan tambahan. Tapi kalau banyak yang mau jadi rektor, ini kan lebih kepada pengabdian,” katanya. Tentang fasilitas, terang dia, memang seorang rektor akan mendapat yang lebih dibanding jabatan lainnya di universitas, seperti dekan.
Rektor adalah satu-satunya jabatan di kampus yang mendapat fasilitas rumah dinas. “Kalau dekan enggak ada, rumah dinas kita kan menyicil di perumahan dosen itu,” kata dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu. Beberapa waktu lalu, harian ini juga sempat menanyakan soal motivasi menjadi rektor kepada salahsatu bakal calon, Abu Bakar Lahjie.
Saat itu, ketika ditemui di Hotel Mesra International Samarinda, dia mengaku, menjadi rektor adalah panggilan untuk memajukan universitas yang dia ikut terlibat dalam pembangunannya dari awal. Apalagi, dia juga mengaku memiliki kemampuan dan pengalaman untuk menjabat posisi tersebut. “Jadi rektor ini adalah pengabdian bagi saya,” katanya saat itu.(far/kpnn/metrobalikpapan.co.id/19/04/2010)




