Aidil Minta Tiga Pejabat Juga Ditahan
SAMARINDA– Mantan General Manager Persisam Putra Aidil Fitri yang hingga kemarin masih meringkuk di sel Rumah Tahanan (Rutan ) Sempaja Samarinda “menyanyi” lagi. Dia tidak menerima kalau kasus bantuan sosial (bansos) yang dituduhkan kepadanya hanya dirinya yang menanggung sendirian.
Pasalnya, dia mengaku, ada orang lain yang paling bertanggung jawab atas dugaan penyimpangan dana untuk klub sepakbola kebanggaan warga Samarinda tersebut. Ia meminta mereka juga ditahan. Dia mengaku memiliki bukti keterlibatan oknum pejabat di lingkungan Pemkot Samarinda. Dikatakan, untuk mendapatkan dana bansos, ia bertindak sebagai pihak pemohon.
Selanjutnya proses ditangani dan didisposisi Kabag Keuangan Ali Fitri, Sekkot Samarinda Fadly Illa, dan Wali Kota Samarinda Achmad Amins. Selanjutnya, dikembalikan ke Kabag Keuangan, lalu masuk ke bagian yang menangani bansos hingga akhirnya dananya cair dalam waktu sekitar 2 minggu. “Mekanismenya jelas dan melalui beberapa tahapan.
Pak Amins, Ali Fitri, dan Fadli juga harus ditahan, karena mereka terlibat,” ujar Aidil ketika ditemui Kaltim Post di Rutan Sempaja Samarinda, Rabu (28/4) kemarin. Ia menambahkan, laporan pertanggungjawaban yang dibuat juga pernah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan hasilnya tidak ada penyimpangan. Kejadiannya, lanjut Aidil, tahun 2007 lalu.
Makanya, tahun berikutnya Persisam kembali mendapatkan kucuran dana. “Kalau ada yang salah dan keliru sudah pasti Persisam Putra tidak mendapatkan bansos lagi. Intinya, kasus ini banyak yang bertanggung jawab,” tegasnya lagi. Selain mekanisme yang dinilai benar, Aidil juga membeberkan dana yang mengalir ke Persisam Putra juga melalui pengurus.
Jadi, ia sendiri tidak pernah menerima dana tersebut. Selain itu, peruntukannya juga jelas, seperti kontrak pemain, sewa rumah bagi pemain asing, sewa mobil, biaya mes di Jl Kadrie Oening, catering, hingga obat-obatan. “Untuk urusan kontrak pemain, pemilihan pelatih, saya serahkan kepada tim, sehingga tidak ada celah untuk me-mark-up nilai kontrak pemain.
Kalau ada silakan dipanggil dan tunjukkan kepada saya. Setelah tanda tangan kontrak pemain, saya sebagai GM (General Manager, Red.) hanya menanyakan kepada pemain, apakah nilainya sudah cocok. Jangan sampai ada ribut-ribut di belakang,” bebernya. Aidil juga membantah kalau laporan keuangan yang dibuat amburadul.
Masalahnya, semua laporan yang dibuat sudah diperiksa oleh akuntan publik yang ditunjuk oleh Ali Fitri dengan alasan paling independen dan kapasitasnya tidak diragukan. Aidil menyebut nama akuntannya adalah Usman dan Rekan yang beralamat di Jalan Kesuma Bangsa No. 21 Samarinda. “Coba bayangkan, kasus macam apa ini.
Saya juga buatkan laporan bulanan kepada wali kota, sehingga dari mana sisi melanggar. Kalau ada penyimpangan dana, kemana uangnya,” tuturnya dengan nada tanya. Sementara itu, istri Aidil Fitri Hj Isnawati berharap agar proses hukum yang harus dihadapi suaminya benar-benar bisa adil. Dia yakin, yang terkait masalah ini tidak hanya suaminya sendiri.
Bahkan, Isnawati menyebut, posisi suaminya hanyalah “anak buah” dari pejabat di lingkungan Pemkot Samarinda. “Saya ikhlas suami saya ditahan, tapi pelaku lainnya juga harus ditahan dong. Tidak mungkin suami saya sendirian. Pokoknya, kami akan menuntut keadilan,” tuturnya. Ditanya soal kondisinya, Aidil berkali-kali menyebut, ”Saya sakit!” Dikatakan, ada beberapa penyakit, seperti, ginjal, penyempitan jantung, dan vertigo.
Makanya, Aidil pernah meminta dokter pribadinya untuk memeriksa kondisinya. Selain itu, tekanan darah mantan Ketua DPC Partai Patriot Samarinda ini juga menurun, yakni, hanya 100 per 80. “Ada bukti keterangan dokter kalau saya kena tiga penyakit. Apalagi selama saya dipenjara saya terpaksa tidur cuma satu jam saja,” akunya.
Menanggapi penyataan Aidil Fitri, Sekkot Fadly Illa yang ditemui Kaltim Post di balai kota, kemarin, memilih tak berkomentar banyak. “Biarkan proses hukum berlanjut,” ujarnya, singkat. Untuk diketahui, dari sejumlah penerima bansos, dana yang mengucur ke Persisam Putra mendapat perhatian besar publik. Indikasi penyimpangannya, ada selisih data hibah dari Pengkot Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Samarinda ke klub Persisam Putra.
Dalam laporan pertanggungjawaban manajamen Persisam Putra tercatat Rp 1,085 miliar lebih diperoleh dari Pengkot PSSI Samarinda. Sementara pada dokumen Pengkot PSSI mencapai Rp 1,885 miliar lebih. Angka itu kemudian berubah menjadi Rp 1,339 miliar, setelah dikurangi utang Pengkot PSSI dengan Persisam Putra sebesar Rp 567 juta lebih.
Selain dana melalui Pengkot PSSI, dalam laporan manajemen Persisam Putra juga terdapat sumber dana APBD Samarinda 2007 sebesar Rp 12,5 miliar. Berarti total APBD 2007 yang mengucur ke Persisam Putra mencapai Rp 13,585 miliar lebih.
Sebelumnya Kajari Samarinda Srilestari Ujiati SH menyatakan bahwa dalam kasus ini Aidil tak sendiri. Hanya saja dia belum bersedia siapa yang akan ditetapkan jadi tersangka dan menyusul Aidil dijebloskan ke rutan.(art/kaltimpost.co.id/30/04/2010)




