Memburu Gaji Rp 25 Juta


SELAMAT hari Senin. Semoga semangat seluruh pembaca Tribun Kaltim di awal pekan ini penuh dengan semangat. Karena setelah menikmati long weekend, libur kerja selama tiga hari kemarin, tentunya tenaga kita semakin fresh untuk mencari sebanyak-banyak rezeki yang disediakan Allah.

Kemarin, keponakan saya saja baru pulang dari Arab Saudi. Tiga tahun dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit umum (RSU) King Saudi Hospital, milik Kerajaan Arab Saudi, di kota Gassim Unayzah. Kota kecil ini terletak di arah timur laut dari Ibukota Jeddah, atau sekitar delapan jam perjalanan dari menggunakan moblil atau dua jam dengan pesawat terbang.

Keponakanku pulang secara sepihak dengan memutuskan kontrak kerja karena suaminya yang bekerja di departemin perindustrian sebagai PNS, menghendaki untuk membina rumahtangga dengan membesarkan anak secara bersama di Indonesia. Menurut ceritanya, perpisahan dengan para dokter dan tenaga medis di RS tersebut berlangsung dengan kesedihan dan penuh linangan airmata.

Kepedihan dan linangan airmata itu sesungguhnya menggambarkan bahwa para perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri, khususnya di Timur Tengah, sangat disenangi. Itu karena rata-rata perawat Indonesia lebih kooperatif, lebih ramah, lebih sopan-santun, lebih telaten, lebih rajin, lebih sungguh-sungguh, dalam menjalankan pekerjaannya, dibanding perawat-perawat lain dari negara lain.

Di tempat keponakan saya bekerja, hanya terdapat lima perawat asal Indonesia yang semuanya wanita. Jumlah tersebut sungguh sangat minoritas. Karena dari total sekitar 700 perawat di King Saudi Hospital, sebuah RSU rujukan untuk Unayzah region, didominasi oleh warga Filipina (40 persen), India (40 persen), dan sisanya berasal dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir dan lainnya.

Hebatnya, pemerintah Arab Saudi ternyata betul-betul menerapkan pendekatan profesional dengan skill basic. Artinya, mereka tidak memasukkan variabel agama dan kepercayaan, sebagai syarat utama. Buktinya, mayoritas perawat asal India dan Filipina yang bekerja di RSU King Saudi Hospital di Gassim Unayzah, adalah mereka yang nonmuslim (nonmuslimah).

Dari sisi skill, masih menurut cerita keponakan saya, sesungguhnya kecakapan perawat asal Indonesia tidak kalah dibanding dari mereka yang berasal dari Filipina dan India, bahkan secara rata-rata mengungguli mereka. Perawat asal Indonesia bahkan disukai, tidak saja oleh para dokter, tapi juga oleh para pasien. Ini karena perawat Indonesia dikenal lebih care, sabar, dan telaten, dengan pendekatan kemanusiaan yang berbasis kasih sayang.

Masalah keperawatan ini saya ketengahkan sebagai tambahan inspirasi kepada pembaca Tribun Kaltim yang berminat, bahwa di sana, di luar negeri, sedang terbuka lapangan pekerjaan yang sangat luas di bidang ini. Data statistik menunjukkan bahwa hingga tahun 2020, dunia membutuhkan sekitar 20 juta perawat profesional (registered nurse). Dimana, hingga tahun 2012 dibutuhkan dua juta tenaga registered nurse, yang bagi negara-negara maju, kebutuhan tersebut sangat bergantung pada negara-negara dunia ketiga.

Konon ada dua penyebab utama kenapa negara-negara maju dan petro dolar tidak mampu lagi mencetak tenaga perawat. Pertama, terjadinya penuaan usia penduduk. Kian meledaknya usia penuaan penduduk tersebut dikarenakan jumlah angka kelahiran yang kian menurun, atau kian banyak yang tidak mau memiliki anak karena persoalan karier dan pekerjaan. Mereka yang tua-tua yang jumlahnya terus membengkak itulah yang membutuhkan perawat.

Kedua, supply tenaga perawat di dalam negeri mereka menurun, karena generasi muda di negara maju dan petro dolar tersebut lebih suka menggeluti dunia bisnis, IT atau komunikasi dan tidak berminat untuk menjadi perawat lagi.

Ada dua negara yang secara cerdas mampu menangkap peluang lapangan pekerjaan tersebut, khususnya di bidang tenaga perawat yang ber-skill internasional, yaitu Filipina dan India. Kedua negara inilah yang kini menjadi pemasok utama dunia akan tenaga keperawatan dengan standar internasional. Mereka menguasai sekitar 80 persen permintaan dunia atas tenaga perawat.
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, seharusnya mampu mengekspor tenaga keperawatan sesuai dengan kebutuhan dunia tersebut.

Peluang Indonesia tersebut boleh jadi akan tersalip oleh Cina, yang kini sudah melakukan langkah-langkah cepat yang strategis untuk menjadi pemasok utama perawat untuk menutupi kebutuhan dunia.

Persoalannya, mengapa kita tidak bisa mengirim tenaga keperawatan (registered nurse) dengan standar dunia? Jawaban termudahnya adalah, karena secara faktual perawat Indonesia hingga saat ini kalah bersaing dengan perawat Filipina dan India, karena faktor bahasa Inggris. Bahasa ini memang menjadi media komunikasi utama khususnya antara dokter dan perawat, di negara tujuan di seluruh dunia, termasuk di Timur Tengah, tak terkecuali Arab Saudi.

Penguasaan bahasa Inggris ini diukur dengan Nilai Test IELTS (International English Language Testing System) dengan nilai overall adalah 6,5. Test IELTS terdiri dari empat komponen, yaitu; a). Mendengar (30 menit), b) Membaca (60 menit), c) Menulis (60 menit), dan d) Bicara (15 menit). Di Indonesia IELTS tes dilakukan di IDP Education Australia dan British Council, di Jakarta.

Faktor lain yang menjadi penghambat kita adalah soal Sertifikasi Keperawatan Internasional. Standar Perawat (SKISP). Secara internasioanl, seorang perawat hanya diakui bila ia adalah  lulusan universitas yang bergelar Bachelor of Science in Nursing (BSN), dan mempunyai Sertifikasi RN (Registered Nurse).

Perawat RN dari India dan Malaysia akan diakui sertifikasinya oleh negara-negara Commonwealth karena standar pendidikan keperawatannya sudah dibuat sama dengan standar internasional. Demikian juga perawat Filipina, begitu lulus BSN mereka mengambil sertifikasi RN di Filipina yang diakui oleh dunia internasional. Sementara bahasa Inggris tidak menjadi masalah bagi orang Filipina, karena mereka sehari-hari menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua mereka.

Indonesia baru mengembangkan program sarjana keperawatan sejak beberapa tahun yang lalu, yang dalam program pendidikannya memisahkan Program Pendidikan Sarjana Keperawatan (4 tahun) dimana lulusannya bergelar SKp (Sarjana Keperawatan). Setelah lulus para SKp mengambil Program Pendidikan Profesi Keperawatan (1,5 tahun) yang lulusannya bergelar Ners. Masalahnya, Gelar SKp dan Ners ini hanya berlaku di Indonesia, dan tidak diakui dunia internasional.

Pemerintah dan para wakil rakyat kita nampaknya harus bekerja keras dan lebih serius lagi untuk mengatasi dan memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadap malasah ini. Kesan umum yang kita tangkap, langkah mereka masih lamban, dan kepedulian mereka masih belum memadai.
Pembaca yang saya hormati. Silakan melanjutkan membaca berita-berita sajian Tribun Kaltim edisi hari ini. Kami berharap kiranya berita-berita kami yang tersaji lewat media cetak Tribun Kaltim maupun media online  di www.tribunkaltim.co.id serta www.tribunnews.com, dapat memberikan alternatif inspirasi untuk berbagai pilihan kehidupan.

Menekuni profesi perawat dengan standar internasional (registered nurse) boleh saja kita sampaikan kepada generasi muda kita. Selagi masih berusia muda tak ada salahnya bila mereka mau menjelajahi dunia untuk mencari uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya.
Gaji perawat asal Indonesia yang bekerja di Timur Tengah berkisar antara 6.000 hingga 10.000 Real atau sekitar Rp 15 juta hingga Rp 25 juta per bulan, bersih. Di Amerika Serikat gaji mereka rata-rata adalah 4.200 dolar AS atau hampir Rp 40 juta per bulan. Sungguh menarik, dan silakan dicoba bagi anak-anak kita yang muda-muda, lelaki dan perempuan.
Salam. (tribunkaltim.co.id/31/05/2010)

 
Kalender Agenda
previous month May 2012 next month
M T W T F S S
week 18 1 2 3 4 5 6
week 19 7 8 9 10 11 12 13
week 20 14 15 16 17 18 19 20
week 21 21 22 23 24 25 26 27
week 22 28 29 30 31
Polling
Bagaimana menurut Anda website BKD Tipe 3 ini?

Please register to vote

 
buy viagra online | viagra price | viagra side effects | information viagra | buy viagra | buy viagra pills | buy generic viagra | viagra for sale | order viagra online | is viagra safe for women | free viagra sample | viagra natural | female viagra | viagra 6 free samples | USA viagra | Viagra uk | viagra purchase | dosage viagra | discount viagra | viagra cheap | non prescription viagra